Informasi Lagu
171
Nomor
Kode
NP 171
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Peter Scholtes
Pencipta Syair
Peter Scholtes
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Kita skalian satu dalam Rohulkudus, Kita skalian satu dalam Rohulkudus, Dan semoga pulihlah kesatuan yang tulus. Kita pun dikenali karna kasih Kristus, Karna kasih kita dikenali trus.
Mari jalan bersama, bergandengan tangan! Mari jalan bersama, bergandengan tangan! Kehadiran Tuhan dimana-mana britakan!
Dengan bahu-membahu bekerjalah kita; Dengan bahu-membahu bekerjalah kita; Kita saling menghormati dan saling menjaga.
Mari puji Sang Bapa, Sumber tiap ciptaan! Dan puji Yesus Kristus, Putra Tunggal Tuhan! Dan puji Rohulkudus, Pemersatu skalian.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 171
Sejarah Lagu
Lagu **"They’ll Know We Are Christians by Our Love"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Kita Dikenali Karena Kasih Kristus"*) adalah salah satu lagu rohani paling ikonik yang lahir dari semangat pembaruan gereja pada tahun 1960-an.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Sosok Sang Pencipta: Peter Scholtes
Lagu ini ditulis pada tahun **1966** oleh seorang imam Katolik bernama **Peter Scholtes**. Pada saat itu, Scholtes melayani sebagai pendeta pembantu di Gereja St. Brendan di Chicago, Amerika Serikat.

Scholtes bukanlah seorang penulis lagu profesional. Ia menulis lagu ini dalam situasi yang sangat spesifik: ia sedang mengorganisir sebuah kelompok pemuda di parokinya dan merasa membutuhkan sebuah lagu yang bisa merangkum identitas kristiani dalam tindakan nyata, bukan sekadar teori.

### 2. Konteks Sejarah: Gerakan Hak Sipil
Tahun 1960-an di Amerika Serikat adalah masa yang penuh gejolak, terutama terkait dengan **Gerakan Hak Sipil (Civil Rights Movement)**. Ketegangan rasial sangat tinggi, dan banyak orang Kristen yang merasa bahwa gereja harus keluar dari tembok bangunannya untuk terlibat dalam perjuangan keadilan sosial.

Peter Scholtes sangat terpengaruh oleh semangat ekumenis (persatuan gereja) dan keinginan untuk melihat umat Kristiani bersatu melampaui perbedaan denominasi. Ia ingin menciptakan lagu yang menantang umat untuk menunjukkan kasih kepada sesama sebagai bukti nyata iman mereka.

### 3. Inspirasi Alkitabiah
Judul dan pesan utama lagu ini diambil langsung dari kata-kata Yesus dalam **Yohanes 13:35**:
> *"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."*

Scholtes merenungkan ayat ini dan menyadari bahwa identitas seorang Kristen sering kali salah dipahami oleh dunia. Dunia melihat orang Kristen sebagai orang yang banyak aturan atau suka menghakimi. Scholtes ingin mengembalikan fokus pada "tanda pengenal" utama umat Kristiani: **kasih**.

### 4. Proses Penciptaan yang Cepat
Menurut kesaksian Scholtes, lagu ini ia tulis dalam waktu yang sangat singkat—**hanya dalam satu malam**. Ia menulisnya untuk digunakan dalam acara kaum muda, karena ia ingin lagu yang ritmenya semangat dan liriknya mudah diingat oleh orang awam.

Saat pertama kali diciptakan, lagu ini belum memiliki judul resmi. Ia menulisnya agar bisa dinyanyikan oleh berbagai kelompok gereja yang sedang berdemonstrasi atau melakukan aksi sosial saat itu.

### 5. Mengapa Lagu Ini Menjadi Fenomena?
Lagu ini meledak popularitasnya karena beberapa alasan:
* **Melodinya Sederhana:** Menggunakan tangga nada yang mudah diikuti, sehingga sangat cocok untuk dinyanyikan bersama-sama dalam barisan aksi protes, kebaktian di lapangan, atau kegiatan kaum muda.
* **Lirik yang "Menelanjangi":** Liriknya jujur dan menantang. Contohnya pada bait yang berbunyi: *"We will work with each other, we will work side by side"* (Kita akan bekerja satu sama lain, bekerja bahu-membahu). Ini memberikan pesan bahwa kesatuan Kristen bukan hanya di dalam gedung gereja, tapi di medan perjuangan kehidupan.
* **Menembus Denominasi:** Karena pesan kasih yang universal, lagu ini tidak terasa "eksklusif" untuk satu aliran gereja saja. Baik gereja Katolik, Protestan, hingga kelompok karismatik, semuanya mengadopsi lagu ini.

### 6. Warisan Lagu
Sejak diciptakan pada tahun 1966, lagu ini telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di seluruh dunia. Bagi banyak orang, lagu ini menjadi "lagu kebangsaan" bagi mereka yang percaya bahwa iman Kristen harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan perpecahan.

Meskipun Peter Scholtes kemudian meninggalkan imamat pada tahun 1970-an untuk menikah dan meniti karier sebagai psikolog, karyanya tetap abadi. Lagu ini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa di mata dunia, keberhasilan dan kesuksesan sebuah gereja bukanlah diukur dari seberapa besar gedungnya, melainkan seberapa besar kasih yang terpancar dari para pengikutnya.