Informasi Lagu
12
Nomor
Kode
NP 12
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Arthur H. Messiter
Pencipta Syair
Edward H. Plumptre
Cross Ref.
NKB 132
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Girangkan hatimu, Nyanyilah, bersyukur! Kibarkan panji Sang Kristus, SalibNya yang masyhur. Girang, girang, Nyanyilah, bersyukur!
Yang muda, yang tua, Lelaki, wanita, Nyaringkan nyanyian megah Bagi Yang Mulia.
Sepanjang hidupmu, Tetaplah bergirang, Di dalam suka dan duka, Malam serta siang.
Tinggikan panjimu, Maju ke medan prang, Tahankan penderitaan Hingga fajar terang.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NP 12 1
Slide 2 — NP 12 2
Slide 3 — NP 12 3
Slide 4 — NP 12 4
Partitur / Not
Partitur Chord NP 12
Sejarah Lagu
Lagu pujian **"Rejoice, Ye Pure in Heart"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Bersukacitalah, hai Khalis Hatinya"*) adalah salah satu lagu gerejawi klasik yang memiliki sejarah menarik, yang menggabungkan kedalaman teologi Edward Hayes Plumptre dan melodi ikonik dari Arthur Henry Messiter.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis Lirik: Edward Hayes Plumptre (1865)
Edward Hayes Plumptre (1821–1891) adalah seorang teolog, pendeta Anglikan, dan profesor di King's College, London. Ia dikenal sebagai sosok intelektual yang sangat fasih dalam bahasa-bahasa kuno.

Lirik lagu ini ditulis pada tahun **1865** untuk sebuah acara peresmian prosesi di gereja. Saat itu, ada kebutuhan akan lagu yang bisa dinyanyikan sambil berjalan (lagu prosesi) yang bukan sekadar lagu pengiring, melainkan lagu yang secara aktif memproklamirkan sukacita iman.

Plumptre menulis lirik ini dengan gaya yang **ritmik dan megah**, terinspirasi dari gaya baris-berbaris (processional) Kristen. Pesan utamanya adalah bahwa hidup orang Kristen adalah sebuah "perjalanan" atau "ziarah" menuju surga, dan perjalanan itu harus dilakukan dengan hati yang murni dan penuh sukacita, bukan dengan beban atau kesedihan.

### 2. Komposer Musik: Arthur Henry Messiter (1883)
Meskipun liriknya ditulis pada 1865, melodi yang paling terkenal dan digunakan di seluruh dunia saat ini—yang berjudul **"MARION"**—diciptakan oleh **Arthur Henry Messiter** pada tahun **1883**.

Messiter adalah seorang organis ternama asal Inggris yang kemudian pindah ke Amerika Serikat dan menjabat sebagai organis di *Trinity Church, Wall Street, New York*.

Kisah di balik melodinya cukup praktis: Messiter merasa bahwa lagu ini membutuhkan irama yang lebih kuat dan bersemangat untuk mengiringi prosesi jemaat. Ia menciptakan melodi "MARION" dengan repetisi yang ikonik di akhir bait: *"Rejoice, rejoice, rejoice, give thanks and sing!"*. Repetisi ini dirancang untuk memberikan penekanan emosional yang kuat dan membantu jemaat untuk ikut bernyanyi dengan antusias.

### 3. Makna Teologis di Balik Lirik
Lagu ini bukan sekadar lagu yang ceria tanpa makna. Plumptre memasukkan kedalaman teologis di setiap baitnya:

* **Hati yang Murni (Pure in Heart):** Merujuk pada ucapan bahagia Yesus dalam Khotbah di Bukit ("Berbahagialah orang yang suci hatinya"). Ini adalah fondasi utama bagi orang percaya untuk bisa benar-benar bersukacita.
* **Hidup sebagai Ziarah:** Lagu ini menggambarkan bahwa hidup adalah perjalanan panjang ("The way is long"). Namun, sukacita berasal dari fakta bahwa perjalanan ini adalah "jalan menuju Tuhan."
* **Kemenangan dalam Kesulitan:** Liriknya mengakui bahwa ada "badai" dan "tantangan", namun bagi orang yang hatinya murni, semua itu tidak menghalangi langkah menuju keabadian.
* **Keagungan Puji-pujian:** Bait-baitnya mengajak seluruh elemen alam dan manusia untuk bersatu memuliakan Tuhan, menjadikannya lagu yang sangat inklusif bagi seluruh jemaat.

### 4. Mengapa Lagu ini Menjadi Klasik?
Kombinasi antara lirik Plumptre yang teologis dan melodi Messiter yang "megah" membuat lagu ini menjadi standar dalam kebaktian besar di seluruh dunia.

* **Kekuatan Repetisi:** Pengulangan kata "Rejoice!" (Bersukacitalah!) berfungsi sebagai penegasan iman di tengah dunia yang seringkali tidak menentu.
* **Musik yang Menggerakkan:** Melodi "MARION" sangat cocok digunakan untuk prosesi (masuk atau keluarnya pelayan gereja/jemaat), memberikan kesan perjalanan yang kemenangan (triumphant).

### Kesimpulan
Lagu "Bersukacitalah, hai Khalis Hatinya" adalah potret dari semangat Kristen abad ke-19 yang berusaha menghidupkan kembali tradisi prosesi gerejawi yang meriah. Edward H. Plumptre memberikan kata-kata yang mendidik jemaat tentang hakikat perjalanan iman, sementara Arthur H. Messiter memberikan "sayap" melalui melodinya, sehingga pesan tersebut tidak hanya dipahami oleh pikiran, tetapi dirasakan dengan semangat yang berkobar-kobar oleh seluruh jemaat yang menyanyikannya.