Informasi Lagu
90
Nomor
Kode
NKI 90
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 454, NP 282
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Jam bersembahyang yang sedap Yang panggil dari dunia g’lap Dan pada takhta Tuhanku Serahkan keperluanku Di waktu berkesusahan Jiwaku dapat p’rentian Terluput dari kuasa g’lap Oleh sembahyang yang sedap Terluput dari kuasa g’lap Oleh sembahyang yang sedap.
Jam bersembahyang yang teguh Yang bawa permintaanku Kepada Dia yang benar Yang mau b’ri berkat terbesar Disuruh cari muka-Nya Bersandar pada firman-Nya Serahkan kebimbanganku Dalam sembahyang yang sungguh Serahkan kebimbanganku Dalam sembahyang yang sungguh.
Jam bersembahyang yang genap Hiburkan hati yang tetap Sampai dipanggil ke surga Beserta Tuhan ke seb’rang Tubuhku t’rus ditinggalkan Pahalaku dik’runiakan Bersorak dan terangkatlah Ke tempat suci yang senang Bersorak dan terangkatlah Ke tempat suci yang senang.
Slide Lirik 6 slide
Slide 1 — NKI 90 1
Slide 2 — NKI 90 2
Slide 3 — NKI 90 3
Slide 4 — NKI 90 4
Slide 5 — NKI 90 5
Slide 6 — NKI 90 6
Partitur / Not
Partitur Chord NKI 90
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Betapa Indah Jam Doa" (Sweet Hour of Prayer)** adalah sebuah kisah yang menyentuh tentang keteguhan iman di tengah keterbatasan fisik. Lagu ini bukan sekadar melodi indah, melainkan curahan hati seseorang yang menemukan kekuatan luar biasa dalam kesunyian doanya kepada Tuhan.

Berikut adalah detail sejarah di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis Lirik: William Walford (1772–1850)
Lirik lagu ini ditulis oleh **William Walford**, seorang pendeta buta yang tinggal di Coleshill, Inggris. Walford adalah pria yang sangat sederhana dan menjalani hidup dalam keterbatasan fisik yang parah. Karena kebutaan yang dideritanya, ia menghabiskan banyak waktunya untuk merenung dan berdoa.

Meskipun ia memiliki pendidikan yang cukup baik sebagai seorang pendeta, ia bukanlah penulis yang terkenal di masanya. Ia menulis puisi ini sekitar tahun **1842**. Konon, ia menulisnya setelah merenungkan betapa doa adalah satu-satunya "tempat pelarian" yang paling indah baginya di tengah dunia yang gelap (karena kebutaannya) dan penuh dengan beban.

### 2. Penemuan Naskah
Walford tidak pernah berniat memublikasikan puisi tersebut secara luas. Ia memberikan naskah itu kepada seorang teman bernama Thomas Salmon. Salmon kemudian membawa puisi itu ke Amerika Serikat.

Pada tahun 1845, seorang editor surat kabar di New York bernama **John Giddings** menerima puisi tersebut dari Salmon. Giddings sangat terkesan dengan kedalaman rohani dalam lirik tersebut, lalu ia memublikasikannya di surat kabar *New York Observer* pada tanggal 13 September 1845.

### 3. Komposisi Musik: William B. Bradbury (1816–1868)
Setelah puisi tersebut diterbitkan, perhatian seorang komposer musik gerejawi terkenal, **William B. Bradbury**, tertuju padanya. Bradbury adalah tokoh sentral dalam musik gerejawi Amerika pada pertengahan abad ke-19.

Bradbury merasa lirik tersebut memiliki melodi yang "tersembunyi" di dalamnya. Ia pun menciptakan irama yang lembut, tenang, dan kontemplatif yang kita kenal sekarang. Lagu ini pertama kali diterbitkan dengan melodinya yang populer dalam buku nyanyian *Bradbury’s Golden Chain* pada tahun 1861.

### 4. Makna di Balik Lirik
Lirik lagu ini mencerminkan perjalanan iman seseorang yang mengalami "Badai Kehidupan" (seperti yang tertulis di bait kedua dan ketiga):

* **Bait 1:** Fokus pada "Jam Doa" sebagai momen melepaskan beban hidup dan menghadap takhta Allah.
* **Bait 2:** Menggambarkan doa sebagai penghiburan bagi mereka yang berduka dan yang jiwanya tertekan.
* **Bait 3:** Mengungkapkan keyakinan bahwa doa adalah kekuatan di tengah godaan.
* **Bait 4:** Menatap masa depan, di mana iman akan berubah menjadi pandangan (saat bertemu Tuhan di surga), sehingga kebutuhan akan "jam doa" dalam bentuk yang sekarang tidak lagi diperlukan karena kita sudah berada bersama-Nya.

### Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Kekuatan lagu ini terletak pada **relatibilitasnya**. Setiap orang, terlepas dari latar belakangnya, pasti pernah merasa lelah, tertekan, atau membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati.

William Walford, yang hidup dalam kegelapan fisik, justru mampu melihat "cahaya" melalui doa. Pesan yang ia sampaikan adalah bahwa dalam doa, kita tidak sedang berbicara kepada ruang hampa, melainkan kepada Bapa yang mendengar.

Hingga saat ini, "Betapa Indah Jam Doa" tetap menjadi salah satu himne yang paling dicintai di seluruh dunia, menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dibawa ke dalam "jam doa" yang suci.