NKI
Allah, Penolong Abadi
Our God, Our In Ages Past
Informasi Lagu
83
Nomor
Kode
NKI 83
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Metronom
0
Cross Ref.
KPPK 262, NP 165, KJ 330
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Allah penolong abadi
Yang harapan kami
Pelindung dari badai dunia
Yang tinggal teguh.
Sebâ??lum bukit terjadilah
Bumi bâ??lum tercipta
Dari kekal Allah adanya
Sampai sâ??lamanya.
Seribu masa, pada-Nya
Seperti sehari
Laksana malam yang sebentar
Tâ??lah lenyap pergi.
Allah penolong abadi
Yang harapan kami
Jadilah tâ??rus pengawal kami
Yang tinggal teguh.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"O God, Our Help in Ages Past"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Kau, Allah, Benteng yang Baka"*) adalah salah satu himne (kidung pujian) paling berpengaruh dalam sejarah kekristenan.
Berikut adalah kisah mendalam di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis: Isaac Watts (Bapak Himne Inggris)
Lagu ini ditulis oleh **Isaac Watts** (1674–1748), seorang pendeta Nonkonformis di Inggris. Pada masa itu, gereja-gereja di Inggris umumnya hanya menyanyikan Mazmur (kitab Mazmur di Alkitab) yang diterjemahkan secara kaku ke dalam syair.
Watts merasa bosan dengan nyanyian gereja yang kering dan tidak emosional. Ia ingin menulis lagu yang merefleksikan pengalaman iman pribadi namun tetap berakar kuat pada Kitab Suci. Ia kemudian menulis koleksi lagu berjudul *The Psalms of David Imitated in the Language of the New Testament* (terbit tahun 1719), yang mencoba "menerjemahkan" Mazmur ke dalam konteks dan bahasa Kristen.
### 2. Sumber Inspirasi: Mazmur 90
Lagu ini sebenarnya merupakan parafrasa (penulisan ulang dengan bahasa sendiri) dari **Mazmur 90**. Ayat 1-2 berbunyi:
> *"Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah."*
Dalam lagu ini, Watts ingin menangkap kontras antara **kefanaan manusia** dan **kekekalan Allah**. Ia menyadari bahwa manusia seperti bunga yang layu atau mimpi yang berlalu, sementara Allah adalah satu-satunya penopang yang tidak berubah di tengah badai zaman.
### 3. Konteks Sejarah dan Kedalaman Teologis
Isaac Watts menulis lagu ini di tengah masa yang penuh ketidakpastian politik dan pergolakan di Inggris. Namun, fokus utamanya bukan pada politik, melainkan pada kedaulatan Allah.
Daya tarik utama dari liriknya adalah bagaimana ia menggambarkan waktu. Bait yang paling terkenal (dalam bahasa Inggris):
> *"A thousand ages in thy sight are like an evening gone; short as the watch that ends the night before the rising sun."*
> (Seribu tahun di mata-Mu bagaikan senja yang berlalu; sesingkat giliran jaga di malam hari sebelum matahari terbit.)
Watts mengingatkan umat manusia bahwa meskipun generasi demi generasi lahir dan meninggal, Allah tetap ada sebagai "Benteng" (perlindungan).
### 4. Melodi: "St. Anne"
Lirik Watts kemudian dipasangkan dengan melodi bernama **"St. Anne"**, yang disusun oleh **William Croft** pada tahun 1708. Melodi ini memiliki nuansa yang megah, stabil, dan agung, yang sangat cocok dengan tema keteguhan Allah. Nama "St. Anne" sendiri merujuk pada gereja St. Anne di Soho, London, tempat Croft menjadi organis.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Ikonik?
Lagu ini menjadi lagu kebangsaan rohani bagi dunia berbahasa Inggris karena perannya dalam momen-momen bersejarah:
* **Winston Churchill:** Lagu ini adalah favorit Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. Lagu ini dinyanyikan dalam pemakaman kenegaraan Churchill, dan ia sering mengutip bait-baitnya selama masa Perang Dunia II untuk memberikan harapan kepada rakyat Inggris saat mereka menghadapi ancaman Nazi.
* **Momen Penting:** Lagu ini selalu dinyanyikan dalam acara-acara kenegaraan besar di Inggris dan perayaan serah terima tahun baru, karena liriknya yang berbicara tentang transisi waktu dan ketergantungan pada Tuhan.
### Makna bagi Kita Hari Ini
"Kau, Allah, Benteng yang Baka" bukan sekadar lagu nostalgia. Ini adalah lagu yang dirancang untuk menenangkan jiwa yang cemas. Ketika dunia di sekitar kita berubah, ekonomi tidak stabil, atau hidup terasa singkat dan rapuh, lagu ini mengajak kita untuk mengalihkan pandangan kepada Allah yang kekal.
**Kesimpulan:**
Isaac Watts menciptakan lagu ini bukan untuk pamer sastra, melainkan untuk memberikan "jangkar" bagi jiwa manusia. Hingga hari ini, lagu ini tetap relevan karena kebenaran dasarnya tetap sama: manusia itu fana, tetapi Allah adalah benteng yang tidak pernah runtuh.
Berikut adalah kisah mendalam di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis: Isaac Watts (Bapak Himne Inggris)
Lagu ini ditulis oleh **Isaac Watts** (1674–1748), seorang pendeta Nonkonformis di Inggris. Pada masa itu, gereja-gereja di Inggris umumnya hanya menyanyikan Mazmur (kitab Mazmur di Alkitab) yang diterjemahkan secara kaku ke dalam syair.
Watts merasa bosan dengan nyanyian gereja yang kering dan tidak emosional. Ia ingin menulis lagu yang merefleksikan pengalaman iman pribadi namun tetap berakar kuat pada Kitab Suci. Ia kemudian menulis koleksi lagu berjudul *The Psalms of David Imitated in the Language of the New Testament* (terbit tahun 1719), yang mencoba "menerjemahkan" Mazmur ke dalam konteks dan bahasa Kristen.
### 2. Sumber Inspirasi: Mazmur 90
Lagu ini sebenarnya merupakan parafrasa (penulisan ulang dengan bahasa sendiri) dari **Mazmur 90**. Ayat 1-2 berbunyi:
> *"Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah."*
Dalam lagu ini, Watts ingin menangkap kontras antara **kefanaan manusia** dan **kekekalan Allah**. Ia menyadari bahwa manusia seperti bunga yang layu atau mimpi yang berlalu, sementara Allah adalah satu-satunya penopang yang tidak berubah di tengah badai zaman.
### 3. Konteks Sejarah dan Kedalaman Teologis
Isaac Watts menulis lagu ini di tengah masa yang penuh ketidakpastian politik dan pergolakan di Inggris. Namun, fokus utamanya bukan pada politik, melainkan pada kedaulatan Allah.
Daya tarik utama dari liriknya adalah bagaimana ia menggambarkan waktu. Bait yang paling terkenal (dalam bahasa Inggris):
> *"A thousand ages in thy sight are like an evening gone; short as the watch that ends the night before the rising sun."*
> (Seribu tahun di mata-Mu bagaikan senja yang berlalu; sesingkat giliran jaga di malam hari sebelum matahari terbit.)
Watts mengingatkan umat manusia bahwa meskipun generasi demi generasi lahir dan meninggal, Allah tetap ada sebagai "Benteng" (perlindungan).
### 4. Melodi: "St. Anne"
Lirik Watts kemudian dipasangkan dengan melodi bernama **"St. Anne"**, yang disusun oleh **William Croft** pada tahun 1708. Melodi ini memiliki nuansa yang megah, stabil, dan agung, yang sangat cocok dengan tema keteguhan Allah. Nama "St. Anne" sendiri merujuk pada gereja St. Anne di Soho, London, tempat Croft menjadi organis.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Ikonik?
Lagu ini menjadi lagu kebangsaan rohani bagi dunia berbahasa Inggris karena perannya dalam momen-momen bersejarah:
* **Winston Churchill:** Lagu ini adalah favorit Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. Lagu ini dinyanyikan dalam pemakaman kenegaraan Churchill, dan ia sering mengutip bait-baitnya selama masa Perang Dunia II untuk memberikan harapan kepada rakyat Inggris saat mereka menghadapi ancaman Nazi.
* **Momen Penting:** Lagu ini selalu dinyanyikan dalam acara-acara kenegaraan besar di Inggris dan perayaan serah terima tahun baru, karena liriknya yang berbicara tentang transisi waktu dan ketergantungan pada Tuhan.
### Makna bagi Kita Hari Ini
"Kau, Allah, Benteng yang Baka" bukan sekadar lagu nostalgia. Ini adalah lagu yang dirancang untuk menenangkan jiwa yang cemas. Ketika dunia di sekitar kita berubah, ekonomi tidak stabil, atau hidup terasa singkat dan rapuh, lagu ini mengajak kita untuk mengalihkan pandangan kepada Allah yang kekal.
**Kesimpulan:**
Isaac Watts menciptakan lagu ini bukan untuk pamer sastra, melainkan untuk memberikan "jangkar" bagi jiwa manusia. Hingga hari ini, lagu ini tetap relevan karena kebenaran dasarnya tetap sama: manusia itu fana, tetapi Allah adalah benteng yang tidak pernah runtuh.
Cross Reference
KPPK 262, NP 165, KJ 330
Kau, Allah, Benteng Yang Baka
KJ
Kau, Allah, Benteng yang Baka
KPPK
Ya Allah, Kau Pertolongan
NP
Sama Tema
Allah