NKB
Mulia, Manis, dan Lembut
Majestic Sweetness Sits Enthroned
Informasi Lagu
91
Nomor
Do=G
Nada Dasar
Kode
NKB 91
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Nada Dasar
Do=G
Ketukan
6 ketuk ketuk
Metronom
105
Jumlah Bait
5 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Thomas Hastings
Pencipta Syair
Samuel Stennett
Penerjemah
B. Maruta / Tim Nyanyian GKI
Syair / Lirik
6 bait
Mulia, manis, dan lembut raut muka Penebus,
pun tutur kataNya penuh anugerah kudus,
anugerah kudus.
Besar kuasa Tuhanku, tiada bandingnya,
di sorga dan di bumi pun teguh wibawaNya;
teguh wibawaNya
Tatkala aku terbenam seg’ra ditolongNya.
Dan ringan segenap beban sebab ditanggungNya;
sebab ditanggungNya.
Semua harta hidupku dib’rikan olehNya;
kuasa maut telah lebur, ‘ku dis’lamatkanNya;
‘ku dis’lamatkanNya.
Ke sorga, rumah yang terang, ‘ku dihantarNya,
‘ku lihat cahya yang cerlang, jiwaku bahagia;
jiwaku bahagia.
Anug’rah kasih yang penuh dib’rikan padaku.
Ya Yesus, jiwa-ragaku kub’rikan padaMu;
kub’rikan padaMu.
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani yang indah, "Mulia, Manis, dan Lembut" (dikenal dalam bahasa Inggris sebagai "Majestic Sweetness Sits Enthroned"), adalah sebuah cerita yang menarik tentang perpaduan antara syair yang mendalam dari abad ke-18 dan melodi yang kuat dari abad ke-19, yang diciptakan oleh dua tokoh yang tidak pernah bertemu namun meninggalkan warisan abadi dalam himnologi Kristen.
Mari kita selami kisah detailnya:
---
### Bagian 1: Sang Penulis Syair – Samuel Stennett (1727-1795)
**Latar Belakang dan Kehidupan:**
Samuel Stennett lahir di Exeter, Inggris, pada tahun 1727. Ia berasal dari keluarga Baptis yang terkemuka, di mana baik kakek maupun ayahnya adalah pendeta Baptis yang dihormati. Stennett mengikuti jejak keluarga, menjadi seorang pendeta Baptis yang sangat dihormati di London. Ia melayani sebagai pendeta di gereja Baptis Little Wild Street di London, sebuah posisi yang juga pernah dipegang oleh ayah dan kakeknya.
Stennett adalah seorang sarjana yang berpendidikan tinggi, seorang teolog yang saleh, dan seorang orator yang ulung. Ia dikenal karena kefasihan dan kedalaman khotbah-khotbahnya. Meskipun ia memiliki koneksi dan persahabatan dengan banyak tokoh terkemuka pada zamannya, termasuk Raja George III, fokus utamanya tetap pada pelayanannya dan pengajaran Firman Tuhan.
**Konteks Penulisan Syair:**
Pada abad ke-18, gerakan kebangunan rohani sedang marak di Inggris, dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti John dan Charles Wesley, serta George Whitefield. Ada kebutuhan yang meningkat akan lagu-lagu pujian baru yang dapat dinyanyikan jemaat, yang mengekspresikan pengalaman iman pribadi dan doktrin Kristen secara mendalam namun mudah diakses. Banyak gereja pada waktu itu masih sangat bergantung pada mazmur berirama (metrical psalms), dan para penulis himne seperti Stennett turut berkontribusi dalam memperkaya repertoar lagu gereja.
**Inspirasi dan Pesan "Majestic Sweetness":**
Syair "Majestic Sweetness Sits Enthroned" ditulis oleh Stennett sekitar tahun 1787. Inti dari syair ini adalah penggambaran Kristus yang seimbang dan komprehensif. Stennett dengan brilian menangkap dualitas keagungan ilahi (majesty) dan kemanisan kasih karunia Kristus (sweetness) – kekuatan-Nya yang berdaulat dan kelembutan-Nya yang penuh kasih.
Stennett merenungkan karakter Yesus Kristus, yang adalah Tuhan yang Mahakuasa sekaligus Juruselamat yang rendah hati dan penuh belas kasihan. Ia melihat Kristus sebagai Raja yang bertahta dalam kemuliaan, namun pada saat yang sama, Ia adalah Domba Allah yang mengasihi dan mengorbankan diri-Nya.
Beberapa baris kuncinya mengungkapkan hal ini:
* "Majestic sweetness sits enthroned upon the Savior's brow." (Kemanisan yang agung bertahta di kening Juruselamat.) – Menggambarkan kemuliaan dan kelembutan-Nya.
* "His head, with radiant glories crowned, his lips with grace o'erflow." (Kepala-Nya, dimahkotai kemuliaan bersinar, bibir-Nya melimpah dengan anugerah.) – Menekankan keilahian dan perkataan-Nya yang penuh kasih.
* "No mortal can with Him compare, among the sons of men." (Tak ada manusia yang dapat disamai-Nya, di antara anak-anak manusia.) – Menegaskan keunikan dan keunggulan Kristus.
Syair ini pertama kali diterbitkan dalam koleksi "A Selection of Hymns from the Best Authors" yang disusun oleh John Rippon pada tahun 1787, di mana Stennett menyumbangkan 39 himne.
---
### Bagian 2: Sang Komposer Melodi – Thomas Hastings (1784-1872)
**Latar Belakang dan Kehidupan:**
Thomas Hastings lahir di Washington, Connecticut, Amerika Serikat, pada tahun 1784. Ia adalah seorang musisi otodidak yang luar biasa, seorang komposer, editor, penulis, dan seorang pendukung vokal yang kuat untuk reformasi musik gerejawi di Amerika.
Pada awal abad ke-19, musik gerejawi di Amerika seringkali berada dalam kondisi yang kurang baik. Banyak jemaat menyanyi dengan kurang harmonis, dan pelatihan musik sangat minim. Hastings mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki situasi ini. Ia percaya bahwa musik harus melayani tujuan rohani, bukan sekadar hiburan. Ia menulis banyak buku tentang teori musik dan himnologi, serta mengadakan "sekolah menyanyi" untuk melatih jemaat dalam menyanyikan lagu-lagu rohani dengan lebih baik.
**Konteks dan Inspirasi Melodi "ORTONVILLE":**
Hastings sangat produktif; ia mengkomposisikan sekitar 1.000 melodi himne dan mengedit lebih dari 50 koleksi himne. Melodi yang paling sering diasosiasikan dengan syair Stennett ini adalah **"ORTONVILLE"**, yang diciptakan oleh Hastings pada tahun **1837**.
Nama "ORTONVILLE" mungkin diambil dari nama sebuah kota kecil di New York. Melodi ini mencerminkan gaya Hastings: sederhana, kuat, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat. Melodi ini memiliki karakteristik yang kokoh namun juga mengalir, memungkinkan jemaat untuk dengan mudah menginternalisasi pesan syairnya. Ini adalah melodi yang secara sempurna menangkap keagungan dan kelembutan yang digambarkan oleh Stennett.
Hastings adalah seorang pionir dalam musik rohani Amerika. Ia ingin menciptakan melodi yang secara spiritual membangkitkan dan memfasilitasi ibadah yang tulus. Melodi "ORTONVILLE" adalah contoh utama dari filosofi ini, dirancang untuk mendukung teks yang mendalam tanpa mendominasinya.
---
### Bagian 3: Perpaduan yang Tak Terduga dan Warisan Abadi
**Pertemuan Antara Syair dan Melodi:**
Samuel Stennett dan Thomas Hastings hidup di dua benua yang berbeda dan di abad yang berbeda; mereka tidak pernah bertemu atau berkolaborasi secara langsung. Perpaduan antara syair Stennett dan melodi Hastings adalah hasil dari keputusan para penyusun buku himne (hymnal editors) yang mencari kombinasi terbaik dari teks dan musik.
Ketika "ORTONVILLE" karya Hastings diterbitkan pada tahun 1837, syair Stennett telah dikenal luas. Para editor hymnal menyadari bahwa melodi Hastings yang kuat dan anggun sangat cocok untuk mengiringi syair Stennett yang mendalam tentang Kristus. Melodi ini memberikan "tubuh" musikal yang sempurna untuk "jiwa" puitis Stennett.
**Pesan Teologis yang Abadi:**
Lagu ini terus menjadi favorit karena kemampuannya untuk secara efektif mengomunikasikan kebenaran teologis yang mendalam:
1. **Kemuliaan dan Kemanisan Kristus:** Menyoroti bagaimana kemuliaan ilahi Kristus tidak bertentangan dengan kasih dan kelembutan-Nya, melainkan menyatu di dalam Diri-Nya.
2. **Keunggulan Kristus:** Menegaskan bahwa tidak ada makhluk lain, baik di surga maupun di bumi, yang dapat dibandingkan dengan Yesus Kristus.
3. **Kasih dan Pengorbanan:** Meskipun Dia adalah Raja, Dia juga adalah Juruselamat yang datang untuk melayani dan mati bagi umat-Nya.
4. **Respon Iman:** Mengundang orang percaya untuk mencintai, menyembah, dan memuji Kristus atas segala yang telah Dia lakukan dan siapa Dia.
**Dampak dan Terjemahan:**
"Majestic Sweetness Sits Enthroned" dengan melodi "ORTONVILLE" dengan cepat menjadi himne yang populer dan dicintai di berbagai denominasi Kristen di Amerika dan di seluruh dunia. Kekuatan lirik dan kemudahan melodi membuatnya mudah dihafal dan dinyanyikan.
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas dengan judul **"Mulia, Manis, dan Lembut"**, sebuah terjemahan yang indah dan akurat yang mempertahankan esensi pesan asli Stennett. Lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah gereja, acara-acara rohani, dan sebagai ekspresi pujian pribadi.
---
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Mulia, Manis, dan Lembut" adalah bukti bagaimana Tuhan dapat memakai hamba-hamba-Nya dari generasi yang berbeda, di tempat yang berbeda, untuk menghasilkan sebuah karya seni rohani yang transenden. Samuel Stennett memberikan kata-kata yang penuh makna dan pemujaan yang mendalam, sementara Thomas Hastings memberikan melodi yang mengharukan dan mudah dijangkau. Bersama-sama, mereka telah menciptakan sebuah himne yang terus memberkati dan menginspirasi jutaan orang untuk merenungkan keagungan, kemanisan, dan kasih Yesus Kristus hingga hari ini.
Mari kita selami kisah detailnya:
---
### Bagian 1: Sang Penulis Syair – Samuel Stennett (1727-1795)
**Latar Belakang dan Kehidupan:**
Samuel Stennett lahir di Exeter, Inggris, pada tahun 1727. Ia berasal dari keluarga Baptis yang terkemuka, di mana baik kakek maupun ayahnya adalah pendeta Baptis yang dihormati. Stennett mengikuti jejak keluarga, menjadi seorang pendeta Baptis yang sangat dihormati di London. Ia melayani sebagai pendeta di gereja Baptis Little Wild Street di London, sebuah posisi yang juga pernah dipegang oleh ayah dan kakeknya.
Stennett adalah seorang sarjana yang berpendidikan tinggi, seorang teolog yang saleh, dan seorang orator yang ulung. Ia dikenal karena kefasihan dan kedalaman khotbah-khotbahnya. Meskipun ia memiliki koneksi dan persahabatan dengan banyak tokoh terkemuka pada zamannya, termasuk Raja George III, fokus utamanya tetap pada pelayanannya dan pengajaran Firman Tuhan.
**Konteks Penulisan Syair:**
Pada abad ke-18, gerakan kebangunan rohani sedang marak di Inggris, dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti John dan Charles Wesley, serta George Whitefield. Ada kebutuhan yang meningkat akan lagu-lagu pujian baru yang dapat dinyanyikan jemaat, yang mengekspresikan pengalaman iman pribadi dan doktrin Kristen secara mendalam namun mudah diakses. Banyak gereja pada waktu itu masih sangat bergantung pada mazmur berirama (metrical psalms), dan para penulis himne seperti Stennett turut berkontribusi dalam memperkaya repertoar lagu gereja.
**Inspirasi dan Pesan "Majestic Sweetness":**
Syair "Majestic Sweetness Sits Enthroned" ditulis oleh Stennett sekitar tahun 1787. Inti dari syair ini adalah penggambaran Kristus yang seimbang dan komprehensif. Stennett dengan brilian menangkap dualitas keagungan ilahi (majesty) dan kemanisan kasih karunia Kristus (sweetness) – kekuatan-Nya yang berdaulat dan kelembutan-Nya yang penuh kasih.
Stennett merenungkan karakter Yesus Kristus, yang adalah Tuhan yang Mahakuasa sekaligus Juruselamat yang rendah hati dan penuh belas kasihan. Ia melihat Kristus sebagai Raja yang bertahta dalam kemuliaan, namun pada saat yang sama, Ia adalah Domba Allah yang mengasihi dan mengorbankan diri-Nya.
Beberapa baris kuncinya mengungkapkan hal ini:
* "Majestic sweetness sits enthroned upon the Savior's brow." (Kemanisan yang agung bertahta di kening Juruselamat.) – Menggambarkan kemuliaan dan kelembutan-Nya.
* "His head, with radiant glories crowned, his lips with grace o'erflow." (Kepala-Nya, dimahkotai kemuliaan bersinar, bibir-Nya melimpah dengan anugerah.) – Menekankan keilahian dan perkataan-Nya yang penuh kasih.
* "No mortal can with Him compare, among the sons of men." (Tak ada manusia yang dapat disamai-Nya, di antara anak-anak manusia.) – Menegaskan keunikan dan keunggulan Kristus.
Syair ini pertama kali diterbitkan dalam koleksi "A Selection of Hymns from the Best Authors" yang disusun oleh John Rippon pada tahun 1787, di mana Stennett menyumbangkan 39 himne.
---
### Bagian 2: Sang Komposer Melodi – Thomas Hastings (1784-1872)
**Latar Belakang dan Kehidupan:**
Thomas Hastings lahir di Washington, Connecticut, Amerika Serikat, pada tahun 1784. Ia adalah seorang musisi otodidak yang luar biasa, seorang komposer, editor, penulis, dan seorang pendukung vokal yang kuat untuk reformasi musik gerejawi di Amerika.
Pada awal abad ke-19, musik gerejawi di Amerika seringkali berada dalam kondisi yang kurang baik. Banyak jemaat menyanyi dengan kurang harmonis, dan pelatihan musik sangat minim. Hastings mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki situasi ini. Ia percaya bahwa musik harus melayani tujuan rohani, bukan sekadar hiburan. Ia menulis banyak buku tentang teori musik dan himnologi, serta mengadakan "sekolah menyanyi" untuk melatih jemaat dalam menyanyikan lagu-lagu rohani dengan lebih baik.
**Konteks dan Inspirasi Melodi "ORTONVILLE":**
Hastings sangat produktif; ia mengkomposisikan sekitar 1.000 melodi himne dan mengedit lebih dari 50 koleksi himne. Melodi yang paling sering diasosiasikan dengan syair Stennett ini adalah **"ORTONVILLE"**, yang diciptakan oleh Hastings pada tahun **1837**.
Nama "ORTONVILLE" mungkin diambil dari nama sebuah kota kecil di New York. Melodi ini mencerminkan gaya Hastings: sederhana, kuat, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat. Melodi ini memiliki karakteristik yang kokoh namun juga mengalir, memungkinkan jemaat untuk dengan mudah menginternalisasi pesan syairnya. Ini adalah melodi yang secara sempurna menangkap keagungan dan kelembutan yang digambarkan oleh Stennett.
Hastings adalah seorang pionir dalam musik rohani Amerika. Ia ingin menciptakan melodi yang secara spiritual membangkitkan dan memfasilitasi ibadah yang tulus. Melodi "ORTONVILLE" adalah contoh utama dari filosofi ini, dirancang untuk mendukung teks yang mendalam tanpa mendominasinya.
---
### Bagian 3: Perpaduan yang Tak Terduga dan Warisan Abadi
**Pertemuan Antara Syair dan Melodi:**
Samuel Stennett dan Thomas Hastings hidup di dua benua yang berbeda dan di abad yang berbeda; mereka tidak pernah bertemu atau berkolaborasi secara langsung. Perpaduan antara syair Stennett dan melodi Hastings adalah hasil dari keputusan para penyusun buku himne (hymnal editors) yang mencari kombinasi terbaik dari teks dan musik.
Ketika "ORTONVILLE" karya Hastings diterbitkan pada tahun 1837, syair Stennett telah dikenal luas. Para editor hymnal menyadari bahwa melodi Hastings yang kuat dan anggun sangat cocok untuk mengiringi syair Stennett yang mendalam tentang Kristus. Melodi ini memberikan "tubuh" musikal yang sempurna untuk "jiwa" puitis Stennett.
**Pesan Teologis yang Abadi:**
Lagu ini terus menjadi favorit karena kemampuannya untuk secara efektif mengomunikasikan kebenaran teologis yang mendalam:
1. **Kemuliaan dan Kemanisan Kristus:** Menyoroti bagaimana kemuliaan ilahi Kristus tidak bertentangan dengan kasih dan kelembutan-Nya, melainkan menyatu di dalam Diri-Nya.
2. **Keunggulan Kristus:** Menegaskan bahwa tidak ada makhluk lain, baik di surga maupun di bumi, yang dapat dibandingkan dengan Yesus Kristus.
3. **Kasih dan Pengorbanan:** Meskipun Dia adalah Raja, Dia juga adalah Juruselamat yang datang untuk melayani dan mati bagi umat-Nya.
4. **Respon Iman:** Mengundang orang percaya untuk mencintai, menyembah, dan memuji Kristus atas segala yang telah Dia lakukan dan siapa Dia.
**Dampak dan Terjemahan:**
"Majestic Sweetness Sits Enthroned" dengan melodi "ORTONVILLE" dengan cepat menjadi himne yang populer dan dicintai di berbagai denominasi Kristen di Amerika dan di seluruh dunia. Kekuatan lirik dan kemudahan melodi membuatnya mudah dihafal dan dinyanyikan.
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas dengan judul **"Mulia, Manis, dan Lembut"**, sebuah terjemahan yang indah dan akurat yang mempertahankan esensi pesan asli Stennett. Lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah gereja, acara-acara rohani, dan sebagai ekspresi pujian pribadi.
---
**Kesimpulan:**
Kisah di balik "Mulia, Manis, dan Lembut" adalah bukti bagaimana Tuhan dapat memakai hamba-hamba-Nya dari generasi yang berbeda, di tempat yang berbeda, untuk menghasilkan sebuah karya seni rohani yang transenden. Samuel Stennett memberikan kata-kata yang penuh makna dan pemujaan yang mendalam, sementara Thomas Hastings memberikan melodi yang mengharukan dan mudah dijangkau. Bersama-sama, mereka telah menciptakan sebuah himne yang terus memberkati dan menginspirasi jutaan orang untuk merenungkan keagungan, kemanisan, dan kasih Yesus Kristus hingga hari ini.