NKB
'Ku Utus 'Kau
So Send I You
Informasi Lagu
210
Nomor
Kode
NKB 210
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
John W. Peterson
Pencipta Syair
E. Margaret Clarkson
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Cross Ref.
NKI 291
Syair / Lirik
5 bait
‘Ku utus ‘kau mengabdi tanpa pamrih,
berkarya t’rus dengan hati teguh,
meski dihina dan menanggung duka;
‘Ku utus ‘kau mengabdi bagiKu.
‘Ku utus ‘kau membalut yang terluka,
menolong jiwa sarat berkeluh,
menanggung susah dan derita dunia.
‘Ku utus ‘kau berkurban bagiKu.
‘Ku utus ‘kau kepada yang tersisih,
yang hatinya diliputi sendu,
sebatang kara, tanpa handai taulan.
‘Ku utus ‘kau membagi kasihKu.
‘Ku utus ‘kau, tinggalkan ambisimu,
padamkanlah segala nafsumu,
namun berkaryalah dengan sesama.
‘Ku utus ‘kau bersatulah teguh.
‘Ku utus ‘kau mencari sesamamu
yang hatinya tegar terbelenggu,
‘tuk menyelami karya di Kalvari.
‘Ku utus ‘kau mengiring langkahKu.
Coda:
Kar’na Bapa mengutusku, ‘Ku utus ‘kau
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ku Utus 'Kau"** (judul asli: *So Send I You*) adalah salah satu lagu pujian (hymn) yang paling mendalam maknanya dalam sejarah musik Kristen. Lagu ini memiliki latar belakang yang unik karena merupakan hasil kolaborasi antara seorang penulis puisi yang reflektif dan seorang komposer yang produktif.
Berikut adalah detail kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: E. Margaret Clarkson (1937)
Margaret Clarkson adalah seorang guru asal Kanada yang sangat mencintai sastra dan teologi. Pada tahun 1937, saat ia masih berusia 22 tahun, ia sedang merenungkan makna dari panggilan pelayanan Kristen.
Ia terinspirasi oleh kata-kata Yesus dalam **Yohanes 20:21**: *"Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."*
Clarkson menulis puisi ini bukan sebagai "lagu untuk orang lain", melainkan sebagai **komitmen pribadinya** kepada Tuhan. Ia menuliskan baris-baris puisi tersebut untuk mengungkapkan kesediaannya mengikuti jejak Kristus, baik dalam penderitaan, penolakan, maupun pelayanan. Baginya, "mengutus" berarti siap untuk memikul salib dan menyerahkan seluruh hidup untuk rencana Tuhan.
Puisi ini kemudian diterbitkan dalam sebuah majalah Kristen, namun awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi lagu populer.
### 2. Komposer: John W. Peterson (1954)
Tujuh belas tahun kemudian, pada tahun 1954, seorang komposer musik rohani terkenal bernama **John W. Peterson** menemukan puisi karya Clarkson tersebut. Peterson, yang saat itu sudah menjadi komposer musik gerejawi yang cukup berpengaruh, merasa sangat tersentuh oleh kedalaman lirik tersebut.
Peterson merasa bahwa pesan dalam puisi itu sangat kuat: bahwa pelayanan Kristen bukanlah tentang kenyamanan, melainkan tentang pengorbanan yang meneladani Kristus. Ia kemudian menggubah melodi yang megah namun penuh refleksi untuk mengiringi kata-kata tersebut.
### 3. Makna Mendalam di Balik Liriknya
Keindahan lagu ini terletak pada kontras yang dibangun dalam liriknya:
* **Pola Pengutusan:** Liriknya menekankan bahwa standar pelayanan kita adalah Kristus sendiri. Sebagaimana Kristus diutus oleh Bapa ke dunia yang menolak-Nya, demikian pula kita diutus ke dunia yang mungkin tidak menerima kita.
* **Pengorbanan:** Kalimat *"So send I you to labor unrewarded"* (Ku utus kau berlelah tanpa balas) sangat menyentuh hati para misionaris dan pelayan Tuhan. Lagu ini mengingatkan bahwa upah sejati seorang pelayan bukanlah pengakuan manusia atau keberhasilan duniawi, melainkan ketaatan kepada Sang Pengutus.
* **Komitmen Pribadi:** Lagu ini ditutup dengan kalimat yang bersifat personal, *“So send I you, to know the joy of Me”* (Ku utus kau, alami sukacita-Ku). Ini adalah janji bahwa di balik setiap kesulitan dalam pelayanan, ada sukacita surgawi yang tidak bisa dipahami oleh dunia.
### 4. Dampak Lagu Ini
Sejak dipublikasikan dengan melodi karya John W. Peterson, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja di seluruh dunia (termasuk di Indonesia dengan judul "Ku Utus 'Kau").
Lagu ini sering kali dinyanyikan dalam upacara penugasan misionaris, kebaktian penahbisan pendeta, atau saat perayaan misi gereja. Lagu ini dianggap sebagai "lagu kebangsaan" bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan lintas budaya atau pelayanan yang penuh tantangan.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah pengingat bahwa sebuah karya seni yang abadi seringkali lahir dari **pergumulan batin yang jujur**. Margaret Clarkson tidak sedang mencoba menjadi terkenal; ia hanya sedang menuangkan rasa takut dan kesediaannya untuk dipakai Tuhan. John W. Peterson memberikan "sayap" melalui melodinya, sehingga doa pribadi seorang guru muda di tahun 1937 itu akhirnya menjadi doa bagi jutaan orang Kristen di seluruh dunia selama puluhan tahun setelahnya.
Berikut adalah detail kisah di balik terciptanya lagu ini:
### 1. Penulis Lirik: E. Margaret Clarkson (1937)
Margaret Clarkson adalah seorang guru asal Kanada yang sangat mencintai sastra dan teologi. Pada tahun 1937, saat ia masih berusia 22 tahun, ia sedang merenungkan makna dari panggilan pelayanan Kristen.
Ia terinspirasi oleh kata-kata Yesus dalam **Yohanes 20:21**: *"Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."*
Clarkson menulis puisi ini bukan sebagai "lagu untuk orang lain", melainkan sebagai **komitmen pribadinya** kepada Tuhan. Ia menuliskan baris-baris puisi tersebut untuk mengungkapkan kesediaannya mengikuti jejak Kristus, baik dalam penderitaan, penolakan, maupun pelayanan. Baginya, "mengutus" berarti siap untuk memikul salib dan menyerahkan seluruh hidup untuk rencana Tuhan.
Puisi ini kemudian diterbitkan dalam sebuah majalah Kristen, namun awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi lagu populer.
### 2. Komposer: John W. Peterson (1954)
Tujuh belas tahun kemudian, pada tahun 1954, seorang komposer musik rohani terkenal bernama **John W. Peterson** menemukan puisi karya Clarkson tersebut. Peterson, yang saat itu sudah menjadi komposer musik gerejawi yang cukup berpengaruh, merasa sangat tersentuh oleh kedalaman lirik tersebut.
Peterson merasa bahwa pesan dalam puisi itu sangat kuat: bahwa pelayanan Kristen bukanlah tentang kenyamanan, melainkan tentang pengorbanan yang meneladani Kristus. Ia kemudian menggubah melodi yang megah namun penuh refleksi untuk mengiringi kata-kata tersebut.
### 3. Makna Mendalam di Balik Liriknya
Keindahan lagu ini terletak pada kontras yang dibangun dalam liriknya:
* **Pola Pengutusan:** Liriknya menekankan bahwa standar pelayanan kita adalah Kristus sendiri. Sebagaimana Kristus diutus oleh Bapa ke dunia yang menolak-Nya, demikian pula kita diutus ke dunia yang mungkin tidak menerima kita.
* **Pengorbanan:** Kalimat *"So send I you to labor unrewarded"* (Ku utus kau berlelah tanpa balas) sangat menyentuh hati para misionaris dan pelayan Tuhan. Lagu ini mengingatkan bahwa upah sejati seorang pelayan bukanlah pengakuan manusia atau keberhasilan duniawi, melainkan ketaatan kepada Sang Pengutus.
* **Komitmen Pribadi:** Lagu ini ditutup dengan kalimat yang bersifat personal, *“So send I you, to know the joy of Me”* (Ku utus kau, alami sukacita-Ku). Ini adalah janji bahwa di balik setiap kesulitan dalam pelayanan, ada sukacita surgawi yang tidak bisa dipahami oleh dunia.
### 4. Dampak Lagu Ini
Sejak dipublikasikan dengan melodi karya John W. Peterson, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja di seluruh dunia (termasuk di Indonesia dengan judul "Ku Utus 'Kau").
Lagu ini sering kali dinyanyikan dalam upacara penugasan misionaris, kebaktian penahbisan pendeta, atau saat perayaan misi gereja. Lagu ini dianggap sebagai "lagu kebangsaan" bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan lintas budaya atau pelayanan yang penuh tantangan.
### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah pengingat bahwa sebuah karya seni yang abadi seringkali lahir dari **pergumulan batin yang jujur**. Margaret Clarkson tidak sedang mencoba menjadi terkenal; ia hanya sedang menuangkan rasa takut dan kesediaannya untuk dipakai Tuhan. John W. Peterson memberikan "sayap" melalui melodinya, sehingga doa pribadi seorang guru muda di tahun 1937 itu akhirnya menjadi doa bagi jutaan orang Kristen di seluruh dunia selama puluhan tahun setelahnya.