Informasi Lagu
2
Nomor
Kode
NKB 2
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Jumlah Bait
6 bait
Pencipta Lagu
Daud Kosasih
Pencipta Syair
William Kethe
Penerjemah
YAMUGER (1979)
Cross Ref.
KLIK 417, STB 24
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 6 bait
Hai mari sembah Yang Maha besar, nyanyikan syukur dengan bergemar. Perisai umatNya Yang Maha Esa, mulia namaNya, takhtaNya megah!
Hai masyhurkanlah keagunganNya; cahaya terang itu jubahNya Gemuruh suaraNya di awan kelam; berjalanlah Dia di badai kencang.
Buana penuh mujizat ajaib, ya Khalik, Engkau membuatnya baik. Engkau memisahkan daratan dan laut dengan kuasa firman: besarlah Engkau!
PengasuhanMu betapa megah; udara dan t’rang menyatakannya, embun bertetesan dan hujan sejuk, lembah maupun bukit cermin kasihMu!
UmatMu lemah dan dari debu, tetap memegang janjiMu teguh. Kasih setiaMu berlimpah terus, ya Khalik, Pembela dan Kawan kudus!
Ya Mahabesar, kekal kasihMu; malaikat memb’ri pujian merdu, pun kami makhlukMu kecil dan lemah, mengangkat pujian serta menyembah.
Slide Lirik 6 slide
Slide 1 — NKB 2 1
Slide 2 — NKB 2 2
Slide 3 — NKB 2 3
Slide 4 — NKB 2 4
Slide 5 — NKB 2 5
Slide 6 — NKB 2 6
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 2
Sejarah Lagu
Lagu **"Hai Mari Sembah"** (judul asli dalam bahasa Inggris: ***O Worship the King***) adalah salah satu himne pujian yang paling klasik dan dicintai di dunia. Untuk memahami kisahnya, kita perlu menelusuri sejarah dari dua tokoh yang berbeda zaman: **Sir Robert Grant** (penulis lirik asli) dan **William Kethe** (yang sering dikaitkan dengan sumber inspirasi metrumnya), serta bagaimana lagu ini diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh **Daud Kosasih**.

Berikut adalah detail kisah di baliknya:

### 1. Asal-Usul Lirik: Sir Robert Grant (1833)
Meskipun sering dikaitkan dengan tradisi yang lebih tua, lirik asli *O Worship the King* ditulis oleh **Sir Robert Grant** pada tahun 1833.

Robert Grant adalah seorang politisi Inggris yang menjabat sebagai Gubernur Bombay (India). Ia adalah seorang Kristen yang sangat taat. Lirik lagu ini terinspirasi dari **Mazmur 104** dalam Alkitab. Mazmur ini dikenal sebagai "Mazmur Penciptaan" yang memuji keagungan Tuhan melalui alam semesta.

Grant menulis lagu ini sebagai bentuk kekaguman atas kemuliaan Allah yang melampaui segala sesuatu. Ia ingin mengingatkan jemaat bahwa meskipun Allah adalah Raja yang agung dan pencipta alam semesta yang dahsyat, Ia juga adalah sosok yang penuh kasih dan perlindungan bagi umat-Nya.

### 2. Hubungan dengan William Kethe
Nama **William Kethe** sering muncul dalam catatan sejarah lagu ini karena ia adalah penyair yang menulis parafrasa Mazmur 104 dalam *Daye's Psalter* (1561).

Robert Grant menggunakan struktur metrum dan gagasan dari parafrasa milik Kethe ini sebagai kerangka dasar untuk menulis liriknya yang baru. Jadi, Kethe memberikan "cetak biru" metrumnya, sementara Grant memberikan keindahan sastra yang kita kenal sekarang.

### 3. Melodi: "O Hanover"
Lagu ini tidak bisa dipisahkan dari melodinya yang megah, yaitu **"Hanover"**. Melodi ini disusun oleh **William Croft** pada tahun 1708. Nama "Hanover" diambil sebagai penghormatan kepada keluarga kerajaan Inggris dari dinasti Hanover yang berkuasa saat itu. Perpaduan antara lirik Grant yang agung dan musik Croft yang berwibawa menciptakan suasana ibadah yang sangat megah dan bersemangat.

### 4. Adaptasi ke Bahasa Indonesia oleh Daud Kosasih
Di Indonesia, lagu ini sangat populer karena terjemahan yang dilakukan oleh **Daud Kosasih**.

Daud Kosasih adalah seorang tokoh musik gerejawi di Indonesia yang banyak berjasa menerjemahkan himne-himne klasik Barat ke dalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan keindahan rima dan kedalaman teologisnya.

Dalam adaptasi Daud Kosasih:
* Ia berhasil menjaga nuansa "keagungan" (*majesty*) dari versi aslinya.
* Lirik bahasa Indonesia yang ia susun: *"Hai mari sembah, Yang Maha Besar, nyanyikan syukur dengan bergemar..."* dianggap sangat puitis dan mudah dinyanyikan dalam jemaat, sehingga lagu ini menjadi standar di hampir semua gereja di Indonesia.

### Makna Teologis di Balik Lagu Ini
Lagu ini adalah sebuah **Doksologi** (pujian kepada Allah). Setiap baitnya membawa pesan khusus:
1. **Bait 1:** Mengajak umat memuji Allah sebagai Raja yang mulia.
2. **Bait 2:** Menggambarkan kuasa Allah dalam penciptaan (awan, badai, angin).
3. **Bait 3:** Mengingat kasih setia Allah yang tidak pernah berubah kepada manusia yang lemah.
4. **Bait 4:** Penyerahan diri manusia sebagai debu tanah yang dikasihi oleh Allah yang baka.

### Kesimpulan
Kisah di balik *O Worship the King* atau *Hai Mari Sembah* adalah perjalanan lintas abad—dimulai dari inspirasi Mazmur 104, dirajut kembali oleh Robert Grant, diberi musik megah oleh William Croft, dan dibawa ke hati jemaat Indonesia oleh Daud Kosasih. Lagu ini tetap relevan karena esensinya yang tidak pernah berubah: **pengakuan akan keagungan Tuhan di tengah keterbatasan manusia.**