Informasi Lagu
181
Nomor
Kode
KPKA 181
Buku
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar
Metronom
0
Cross Ref.
KPJ 172, KJ 335
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Kula ananem wiji taberi ngrimati nging tuwuh miwah suburnya Allah kang mberkahi Pangeran paring jawah lan sunaring surya wah saliring wohira nggih berkahing Rama Sumangga misungsung kanthi trusing manah sadhengah barang darbe kita konjuk mring Allah.
Kula sengkut makarya ing saliring kardi wit iku dados marginya berkah saking Gusti sawarnining pakaryan tan ana kang nistha asil gedhe cilika mesthi murakabi.
Kasarasan karosan berkahing Sang Rama kapinteran kaprigelan wah aruming nama ywa nganti anjalari gumunggunging ati ing sagunging kahanan ngluhurken Pangeran.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KPKA 181 1
Slide 2 — KPKA 181 2
Slide 3 — KPKA 181 3
Slide 4 — KPKA 181 4
Partitur / Not
Partitur Chord KPKA 181
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Manusia Yang Meluku" (judul aslinya dalam bahasa Jerman: "Wir pflügen und wir streuen") adalah cerita yang indah tentang syukur, kerja keras manusia, dan kemurahan alam yang diberikan oleh Tuhan. Lagu ini, yang kini menjadi himne panen dan perayaan syukur yang universal, lahir dari kolaborasi tak sengaja antara seorang penyair dan seorang komponis di Jerman pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

Mari kita selami detailnya:

---

### **Bagian 1: Sang Penyair – Matthias Claudius dan "Das Bauernlied" (Lagu Petani)**

**1. Matthias Claudius (1740-1815): Sang "Volksdichter" (Penyair Rakyat)**
Matthias Claudius adalah seorang penulis dan jurnalis Jerman yang hidup di era Pencerahan, namun memiliki pandangan yang sangat spiritual dan religius. Ia dikenal dengan gaya bahasanya yang sederhana, jujur, dan hangat, yang membuatnya dicintai oleh masyarakat luas. Claudius adalah editor surat kabar mingguan "Der Wandsbeker Bothe" (Kurir Wandsbek), di mana ia menerbitkan banyak karyanya sendiri, termasuk puisi, esai, dan cerita pendek.

**2. Kelahiran Puisi "Das Bauernlied" (1778)**
Pada tahun 1778, Claudius menulis sebuah puisi berjudul "Das Bauernlied" (Lagu Petani). Puisi ini adalah ekspresi mendalam dari rasa syukur atas panen yang melimpah dan pengakuan akan peran ilahi dalam menyediakan kebutuhan dasar manusia.
* **Konteks Penulisan:** Claudius tinggal di Wandsbek (sekarang bagian dari Hamburg), sebuah daerah pedesaan di mana ia menyaksikan langsung siklus pertanian: membajak, menabur, menanam, dan memanen. Ia sangat menghargai kerja keras para petani dan merenungkan bagaimana alam, dengan bantuan Tuhan, menyediakan makanan bagi semua makhluk.
* **Inti Pesan:** Puisi ini bukan hanya tentang panen, tetapi juga tentang pengakuan bahwa di balik setiap suapan roti, ada tangan Tuhan yang bekerja. Ia menggambarkan proses pertanian dari awal hingga akhir, menekankan bahwa meskipun manusia membajak dan menabur ("Wir pflügen und wir streuen"), pertumbuhan dan hasil akhir sepenuhnya bergantung pada berkah ilahi – matahari, hujan, embun, dan embusan angin. Ini adalah perpaduan antara etos kerja manusia dan iman yang teguh pada pemeliharaan ilahi.

**3. Cuplikan Puisi (Baris Pembuka Asli):**
Wir pflügen und wir streuen
Den Samen auf das Land,
Doch Wachstum und Gedeihen
Liegt in des Himmels Hand.

* *(Terjemahan kasar: "Kami membajak dan kami menabur benih di atas tanah, tetapi pertumbuhan dan kemakmuran ada di tangan Surga.")*

Puisi ini dengan cepat menjadi populer di kalangan pembaca "Der Wandsbeker Bothe" karena kesederhanaan, keindahan, dan pesannya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

---

### **Bagian 2: Sang Komponis – Johann Abraham Peter Schulz dan Musiknya**

**1. Johann Abraham Peter Schulz (1747-1800): Sang Pembawa Melodi Rakyat**
Johann Abraham Peter Schulz adalah seorang komponis, konduktor, dan pendidik musik Jerman yang memiliki reputasi tinggi. Meskipun ia pernah menjadi Direktur Musik untuk Raja Prusia di Berlin dan kemudian Kapellmeister di Copenhagen, ia sangat tertarik pada penciptaan lagu-lagu yang sederhana, mudah dinyanyikan, dan cocok untuk rakyat biasa (Volkston). Ia percaya bahwa musik harus dapat diakses dan dinikmati oleh semua orang, bukan hanya kaum elit.

**2. Melodi untuk "Das Bauernlied" (1800)**
Pada tahun 1800, Schulz menerbitkan koleksi lagu-lagu berjudul "Lieder im Volkston" (Lagu-lagu dalam Gaya Rakyat). Dalam koleksi inilah, ia menyertakan setting musik untuk puisi "Das Bauernlied" karya Matthias Claudius.
* **Pendekatan Musik:** Schulz menciptakan melodi yang sangat sederhana, mengalir, dan mudah dihafal. Melodi ini memiliki nuansa lagu rakyat Jerman yang otentik, tanpa ornamen berlebihan, memungkinkan fokus tetap pada lirik yang sarat makna. Ia berhasil menangkap esensi puisi Claudius: rasa syukur, kerendahan hati, dan pengakuan akan kebesaran Tuhan.
* **Bagaimana Ia Menemukan Puisi Itu?** Kemungkinan besar, Schulz mengenal puisi Claudius melalui publikasi "Der Wandsbeker Bothe" atau dari koleksi puisi yang sudah beredar luas pada masa itu. Puisi Claudius sudah cukup terkenal, dan Schulz, dengan misinya untuk menciptakan lagu-lagu rakyat, pasti tertarik pada teks yang begitu membumi dan spiritual.

---

### **Bagian 3: Pernikahan Kata dan Nada – Sebuah Mahakarya Lahir**

Ketika untaian kata-kata Matthias Claudius yang menyejukkan hati bertemu dengan melodi Johann Abraham Peter Schulz yang mengalir jernih, lahirlah sebuah mahakarya. Lagu ini dengan cepat menyebar luas di seluruh Jerman.
* **Daya Tarik Universal:** Kombinasi lirik yang jujur dan spiritual dengan melodi yang sederhana dan mudah diingat membuatnya sangat populer di gereja-gereja, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah tangga.
* **Penggunaan dalam Perayaan:** Lagu ini segera menjadi bagian integral dari perayaan Erntedankfest (Festival Syukur Panen) di Jerman, sebuah tradisi kuno untuk bersyukur atas hasil bumi.

---

### **Bagian 4: Pengaruh dan Warisan – Dari Ladang ke Seluruh Dunia**

**1. Penyebaran Internasional:**
Ketenaran lagu ini tidak terbatas pada Jerman. Melalui misionaris dan imigran, lagu ini menyebar ke berbagai belahan dunia.
* **Terjemahan Bahasa Inggris:** Yang paling terkenal adalah terjemahan bahasa Inggris berjudul "We Plough the Fields and Scatter," yang dibuat oleh Jane Montgomery Campbell pada tahun 1861. Terjemahan ini, meskipun tidak sepenuhnya literal, berhasil menangkap semangat dan pesan asli lagu tersebut dan menjadi salah satu himne panen paling populer di dunia Anglophone.

**2. "Manusia Yang Meluku" di Indonesia:**
Di Indonesia, lagu ini juga dikenal dan sering dinyanyikan dalam berbagai konteks gerejawi, terutama pada perayaan syukur panen atau hari raya pentakosta. Judul "Manusia Yang Meluku" secara tepat menggambarkan baris pembuka asli dalam bahasa Jerman dan esensi pesan lagu tersebut tentang kerja keras manusia di ladang.

**3. Pesan yang Abadi:**
Lebih dari dua abad setelah diciptakan, "Wir pflügen und wir streuen" (Manusia Yang Meluku) tetap relevan.
* **Syukur:** Ini adalah pengingat yang kuat akan pentingnya rasa syukur atas makanan yang kita konsumsi setiap hari.
* **Kerja Keras:** Ini menghargai kerja keras para petani dan semua orang yang terlibat dalam penyediaan pangan.
* **Ketergantungan pada Alam dan Tuhan:** Ini menegaskan keterbatasan manusia dan ketergantungan kita pada proses alam dan berkah ilahi untuk kelangsungan hidup.

Lagu ini adalah bukti bahwa karya seni yang tulus, sederhana, dan berakar pada kebenaran universal dapat melampaui waktu dan batas budaya, terus menginspirasi generasi demi generasi untuk merenungkan anugerah kehidupan dan kerja keras yang menyertainya.