KPJ
Ing Ardi Golgota
Informasi Lagu
259
Nomor
Kode
KPJ 259
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Metronom
0
Cross Ref.
KMM 15, BE 412, GB 169, KK 367, NKB 83
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Ing ardi Golgota ana salin ira
lambang ing pamoyok panyiya.
Ing kono Gustiku pinethang sangsara
nebus dosaning para jalma.
Salib iku tansah dak pundhi,
nadyan nganti tumekeng janji.
Dak rangkul kanthi trusing kalbu
makutha kang dadya duwekku.
Salib kang minangka lambanging panguya, tumrap aku gedhe ajine,
cempe kurban suci tumedhak ing donya, ngluwari jagad krana sihe.
Salib kang minangka tandhaning kanisthan, kecipratan ing getih suci.
dadi marga aku antuk kaslametan, dosa lebur wit rahe Gusti.
Kanthi setya nurut ing margine Gusti, nadyan aku cinacat tansah;
katuntun mring papan kang luhur sejati, nampa kaluberaning berkah
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Nun di Bukit yang Jauh" (yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul aslinya, "The Old Rugged Cross") adalah sebuah cerita yang menyentuh hati tentang iman, penderitaan, dan inspirasi ilahi. Lagu ini ditulis oleh **George Bennard**, seorang penginjil Metodis Amerika, pada tahun 1913.
Mari kita selami kisah detailnya:
---
**Latar Belakang George Bennard:**
George Bennard lahir pada tahun 1873 di Youngstown, Ohio. Keluarganya kemudian pindah ke Iowa. Ayahnya meninggal dunia saat George berusia 16 tahun, meninggalkannya sebagai penopang utama keluarga. Ia bekerja di pabrik untuk menafkahi ibu dan saudara perempuannya. Meskipun menghadapi kesulitan ekonomi, panggilan untuk melayani Tuhan terus berkumandang di hatinya.
Pada akhirnya, ia berhasil menempuh pendidikan dan menjadi seorang pendeta Metodis, kemudian bekerja sebagai penginjil keliling, mengadakan pertemuan kebangunan rohani di seluruh Amerika Serikat dan Kanada. Bennard dikenal sebagai seorang penginjil yang tulus, berfokus pada pertobatan dan kehidupan Kristen yang kudus.
**Benih Inspirasi: Penderitaan dan Makna Salib:**
Pada awal tahun 1910-an, Bennard sedang dalam masa-masa pelayanan yang berat dan penuh tantangan. Ia merasa lelah secara fisik dan secara spiritual terbebani. Ia merasa bahwa banyak pengkhotbah pada masa itu terlalu menekankan kebahagiaan dan kemenangan dalam iman Kristen, namun kurang menyoroti aspek penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ia berpendapat bahwa orang perlu memahami *mengapa* salib itu "kasar" dan "tua" sebelum mereka dapat sepenuhnya menghargai kemuliaannya.
Pada suatu malam di tahun 1912, setelah sebuah pertemuan kebangunan rohani di Pokagon, Michigan, Bennard sangat terganggu oleh perdebatan teologis tentang sifat dan makna salib. Beberapa jemaat dan bahkan pendeta tampaknya meremehkan aspek penderitaan Kristus. Hal ini sangat menyentuh hati Bennard.
Malam itu, di rumah Pendeta L. O. Bostwick, Bennard merenungkan penderitaan Kristus. Ia membayangkan Yesus tergantung di kayu salib, sebuah instrumen penyiksaan dan penghinaan, yang pada akhirnya menjadi simbol cinta dan pengorbanan terbesar. Dia merasa bahwa hanya melalui penderitaan dan pengorbanan di saliblah penebusan dosa manusia dapat terjadi. Beban spiritual ini begitu berat sehingga ia merasakan dorongan kuat untuk menuliskan perasaannya.
**Proses Penciptaan Lagu:**
Dengan perasaan yang dalam itu, Bennard mulai menulis beberapa baris puisi. Dia menggambar sketsa kasar dari salib di selembar kertas. Baris pertama yang terlintas di benaknya adalah:
> "On a hill far away stood an old rugged cross,
> The emblem of suffering and shame..."
> (Di bukit yang jauh berdirilah salib yang tua lagi kasar,
> Lambang penderitaan dan kehinaan...)
Kata-kata ini menjadi dasar dari bait pertama dan inti dari keseluruhan lagu. Ia tidak hanya menulis lirik, tetapi juga mulai menggubah melodi sederhana yang kuat di benaknya. Bennard percaya bahwa baik lirik maupun melodi diberikan kepadanya oleh Tuhan.
Meskipun bagian pertama lagu ini ditulis di Pokagon, Michigan, Bennard menyelesaikan keseluruhan lagu pada awal tahun 1913 di sebuah kota kecil bernama Alba, Michigan, di sebuah kamp penebangan kayu tempat ia mengadakan pertemuan kebangunan rohani. Ia sering menghabiskan waktu sendirian di hutan, merenungkan dan menyempurnakan lagu tersebut. Dia ingin setiap kata dan setiap nada menyampaikan kedalaman makna dari pengorbanan Kristus.
**Perdana dan Penyebaran:**
Lagu "The Old Rugged Cross" pertama kali dibawakan di depan umum pada **7 Juni 1913**, di Chicago Evangelistic Institute (sekarang Vennard College), dengan George Bennard sendiri yang menyanyikannya dan Mrs. C. J. Forsberg bermain piano.
Tidak lama setelah itu, Bennard memperkenalkan lagu ini pada pertemuan kebangunan rohani di Pokagon, Michigan, tempat benih inspirasi awalnya muncul. Reaksi dari jemaat sangat luar biasa. Pesan yang tulus dan melodinya yang mudah diingat segera meresap ke dalam jiwa banyak orang.
Lagu ini mulai menyebar dengan cepat. Homer Rodeheaver, direktur musik terkenal yang bekerja dengan penginjil Billy Sunday, mendengar lagu ini dan sangat terkesan. Ia mulai menggunakan lagu ini dalam pertemuan kebangunan rohaninya yang besar, yang pada akhirnya membuat lagu ini dikenal secara nasional dan internasional. Rodeheaver juga merekam lagu tersebut, yang semakin mempercepat penyebarannya.
**Makna Abadi dan Warisan:**
"The Old Rugged Cross" dengan cepat menjadi salah satu himne paling dicintai dan sering dinyanyikan di gereja-gereja Protestan di seluruh dunia. Keberhasilannya terletak pada kesederhanaan dan kedalamannya. Lagu ini tidak hanya berbicara tentang salib sebagai lambang kemenangan, tetapi juga sebagai lambang penderitaan, penghinaan, dan pengorbanan pribadi Kristus. Ini mengundang orang percaya untuk tidak hanya memuji salib, tetapi juga untuk "berpegang erat" padanya, menanggung celaan dan kehinaannya, sampai tiba saatnya mereka bertukar salib itu dengan mahkota.
George Bennard terus melayani sebagai penginjil selama sisa hidupnya. Dia meninggal pada tahun 1958 pada usia 85 tahun. Dia menulis lebih dari 300 lagu, tetapi "The Old Rugged Cross" adalah satu-satunya yang membuatnya abadi. Sebuah salib besar berdiri di makamnya di Reed City, Michigan, dengan bait pertama lagu ini terukir di atasnya.
Hingga hari ini, "Nun di Bukit yang Jauh" terus menginspirasi jutaan orang, mengingatkan mereka akan harga penebusan dan kasih Kristus yang tak terbatas, yang terwujud di "salib yang tua lagi kasar" itu.
Mari kita selami kisah detailnya:
---
**Latar Belakang George Bennard:**
George Bennard lahir pada tahun 1873 di Youngstown, Ohio. Keluarganya kemudian pindah ke Iowa. Ayahnya meninggal dunia saat George berusia 16 tahun, meninggalkannya sebagai penopang utama keluarga. Ia bekerja di pabrik untuk menafkahi ibu dan saudara perempuannya. Meskipun menghadapi kesulitan ekonomi, panggilan untuk melayani Tuhan terus berkumandang di hatinya.
Pada akhirnya, ia berhasil menempuh pendidikan dan menjadi seorang pendeta Metodis, kemudian bekerja sebagai penginjil keliling, mengadakan pertemuan kebangunan rohani di seluruh Amerika Serikat dan Kanada. Bennard dikenal sebagai seorang penginjil yang tulus, berfokus pada pertobatan dan kehidupan Kristen yang kudus.
**Benih Inspirasi: Penderitaan dan Makna Salib:**
Pada awal tahun 1910-an, Bennard sedang dalam masa-masa pelayanan yang berat dan penuh tantangan. Ia merasa lelah secara fisik dan secara spiritual terbebani. Ia merasa bahwa banyak pengkhotbah pada masa itu terlalu menekankan kebahagiaan dan kemenangan dalam iman Kristen, namun kurang menyoroti aspek penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ia berpendapat bahwa orang perlu memahami *mengapa* salib itu "kasar" dan "tua" sebelum mereka dapat sepenuhnya menghargai kemuliaannya.
Pada suatu malam di tahun 1912, setelah sebuah pertemuan kebangunan rohani di Pokagon, Michigan, Bennard sangat terganggu oleh perdebatan teologis tentang sifat dan makna salib. Beberapa jemaat dan bahkan pendeta tampaknya meremehkan aspek penderitaan Kristus. Hal ini sangat menyentuh hati Bennard.
Malam itu, di rumah Pendeta L. O. Bostwick, Bennard merenungkan penderitaan Kristus. Ia membayangkan Yesus tergantung di kayu salib, sebuah instrumen penyiksaan dan penghinaan, yang pada akhirnya menjadi simbol cinta dan pengorbanan terbesar. Dia merasa bahwa hanya melalui penderitaan dan pengorbanan di saliblah penebusan dosa manusia dapat terjadi. Beban spiritual ini begitu berat sehingga ia merasakan dorongan kuat untuk menuliskan perasaannya.
**Proses Penciptaan Lagu:**
Dengan perasaan yang dalam itu, Bennard mulai menulis beberapa baris puisi. Dia menggambar sketsa kasar dari salib di selembar kertas. Baris pertama yang terlintas di benaknya adalah:
> "On a hill far away stood an old rugged cross,
> The emblem of suffering and shame..."
> (Di bukit yang jauh berdirilah salib yang tua lagi kasar,
> Lambang penderitaan dan kehinaan...)
Kata-kata ini menjadi dasar dari bait pertama dan inti dari keseluruhan lagu. Ia tidak hanya menulis lirik, tetapi juga mulai menggubah melodi sederhana yang kuat di benaknya. Bennard percaya bahwa baik lirik maupun melodi diberikan kepadanya oleh Tuhan.
Meskipun bagian pertama lagu ini ditulis di Pokagon, Michigan, Bennard menyelesaikan keseluruhan lagu pada awal tahun 1913 di sebuah kota kecil bernama Alba, Michigan, di sebuah kamp penebangan kayu tempat ia mengadakan pertemuan kebangunan rohani. Ia sering menghabiskan waktu sendirian di hutan, merenungkan dan menyempurnakan lagu tersebut. Dia ingin setiap kata dan setiap nada menyampaikan kedalaman makna dari pengorbanan Kristus.
**Perdana dan Penyebaran:**
Lagu "The Old Rugged Cross" pertama kali dibawakan di depan umum pada **7 Juni 1913**, di Chicago Evangelistic Institute (sekarang Vennard College), dengan George Bennard sendiri yang menyanyikannya dan Mrs. C. J. Forsberg bermain piano.
Tidak lama setelah itu, Bennard memperkenalkan lagu ini pada pertemuan kebangunan rohani di Pokagon, Michigan, tempat benih inspirasi awalnya muncul. Reaksi dari jemaat sangat luar biasa. Pesan yang tulus dan melodinya yang mudah diingat segera meresap ke dalam jiwa banyak orang.
Lagu ini mulai menyebar dengan cepat. Homer Rodeheaver, direktur musik terkenal yang bekerja dengan penginjil Billy Sunday, mendengar lagu ini dan sangat terkesan. Ia mulai menggunakan lagu ini dalam pertemuan kebangunan rohaninya yang besar, yang pada akhirnya membuat lagu ini dikenal secara nasional dan internasional. Rodeheaver juga merekam lagu tersebut, yang semakin mempercepat penyebarannya.
**Makna Abadi dan Warisan:**
"The Old Rugged Cross" dengan cepat menjadi salah satu himne paling dicintai dan sering dinyanyikan di gereja-gereja Protestan di seluruh dunia. Keberhasilannya terletak pada kesederhanaan dan kedalamannya. Lagu ini tidak hanya berbicara tentang salib sebagai lambang kemenangan, tetapi juga sebagai lambang penderitaan, penghinaan, dan pengorbanan pribadi Kristus. Ini mengundang orang percaya untuk tidak hanya memuji salib, tetapi juga untuk "berpegang erat" padanya, menanggung celaan dan kehinaannya, sampai tiba saatnya mereka bertukar salib itu dengan mahkota.
George Bennard terus melayani sebagai penginjil selama sisa hidupnya. Dia meninggal pada tahun 1958 pada usia 85 tahun. Dia menulis lebih dari 300 lagu, tetapi "The Old Rugged Cross" adalah satu-satunya yang membuatnya abadi. Sebuah salib besar berdiri di makamnya di Reed City, Michigan, dengan bait pertama lagu ini terukir di atasnya.
Hingga hari ini, "Nun di Bukit yang Jauh" terus menginspirasi jutaan orang, mengingatkan mereka akan harga penebusan dan kasih Kristus yang tak terbatas, yang terwujud di "salib yang tua lagi kasar" itu.
Cross Reference
KMM 15, BE 412, GB 169, KK 367, NKB 83
Ndi Di Dolok Adui
BE
Nun Di Bukit Yang Jauh
GB
Nun Di Bukit Yang Jauh
KK
Nun Di Bukit Yang Jauh
KMM
Nun di Bukit yang Jauh
NKB
Sama Tema
Kidung Paskah
Abdining Sang Yehuwah
KPJ
Aneng Salib Paduka
KPJ
Dosa Punapa
KPJ
Gusti Gesang Malih
KPJ
Gusti Kang Sumare
KPJ
Gusti Neng Taman Getsemane
KPJ
Gusti Sampun Wungu
KPJ
Gusti Sinalib Ing Golgota
KPJ
Gusti Yesus Sinalib
KPJ
Gusti Yesus Wus Wungu
KPJ
Ing Dinten Adi Puniki
KPJ
Ing Golgota
KPJ
Kwaosing Asma Paduka
KPJ
Lah Wonten Swara Gumiyak
KPJ
Luwar
KPJ
Neng Pucak Ardi
KPJ
Nulada Mring Sang Pamarta
KPJ
Pamarta Kula Agesang
KPJ
Panglipuring Tyang Prihatos
KPJ
Saiba Sangsarane Gusti
KPJ
Sang Kristus Sinangsara
KPJ
Sang Pamarta Seda Paduka
KPJ
Sihe Allah Maring Jagad
KPJ
Sinten Ingkang Tan Anglentrih
KPJ
Sinten Kang Sumarah
KPJ
Srana Mandeng Ing Salib
KPJ
Swawi Pra Kanca
KPJ
Taman Getsemane Kang Sepi
KPJ
Wonten Darah Suci Mancur
KPJ
Yen Mandeng Salibing Gusti
KPJ