Informasi Lagu
54
Nomor
Kode
KP 54
Buku
Kidung Pamuji
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 364, KK 449, NKI 185, NP 230
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
1. Duh Hyang Yesus titiang suksrah dewek mwah jiwa sami. Urip titiang kaaturang ring I Ratu slaminnya Oduh Hyang Yesus, Juru panebus Titiang suksrah dewek jiwa, mugi katrima. 2. Titiang suksrah ring Hyang Yesus, sane baktinin titiang. jagat tan nyidayang nulung, skadi palungguh Ratu. Oduh Hyang Yesus, Juru panebus Titiang suksrah dewek jiwa, mugi katrima. 3. Mangkin sami kaaturang, dados padruwen Ratu. Madak ja nyidayang sinah, jroning laksanan titiang. Oduh Hyang Yesus, Juru panebus Tiang suksrah dewek jiwa, mugi katrima. 4. Titiang suksrah ring I Ratu, ledang Ratu nerima. Mertan Ratu madak membah, ring titiang selaminnya. Oduh Hyang Yesus, Juru panebus Titiang suksrah dewek jiwa, mugi katrima.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KP 54 1
Slide 2 — KP 54 2
Slide 3 — KP 54 3
Slide 4 — KP 54 4
Partitur / Not
Partitur Chord KP 54
Sejarah Lagu
"Berserah Kepada Yesus," atau judul aslinya "All To Jesus I Surrender," adalah salah satu himne Kristen yang paling menyentuh dan dikenal luas di seluruh dunia. Lagu ini bukan sekadar rangkaian kata dan melodi yang indah, melainkan cerminan dari pergumulan pribadi yang mendalam dan sebuah momen penyerahan total yang mengubah hidup salah satu penulisnya. Kisah di baliknya adalah tentang panggilan Ilahi, keraguan manusiawi, dan akhirnya, iman yang tak tergoyahkan.

Mari kita selami kisah di balik lagu ini, yang melibatkan dua sosok penting: Judson Wheeler Van De Venter (penulis lirik) dan Winfield Scott Weeden (komposer melodi).

---

### Judson Wheeler Van De Venter: Kisah di Balik Lirik (1896)

**Latar Belakang dan Panggilan:**
Judson Wheeler Van De Venter lahir pada tahun 1855 di Dundee, Michigan, Amerika Serikat. Ia adalah seorang pria yang diberkahi dengan berbagai talenta. Ia memiliki pendidikan tinggi dan awalnya bekerja sebagai guru seni di sebuah perguruan tinggi. Van De Venter juga seorang seniman yang berbakat, dan ia sangat mencintai pekerjaannya serta menikmati kehidupan yang nyaman dan terpandang di komunitasnya. Ia dikenal sebagai seorang Kristen yang saleh, namun ada sesuatu yang terus-menerus mengusik jiwanya.

Di masa itu, gerakan kebangunan rohani (revival) sangat marak di Amerika, dan Van De Venter sering terlibat dalam pertemuan-pertemuan evangelis. Selama bertahun-tahun, ia merasakan panggilan yang kuat dari Tuhan untuk meninggalkan kariernya yang nyaman dan mengabdikan dirinya sepenuhnya sebagai seorang penginjil atau evangelis purna waktu.

**Pergumulan Batin yang Hebat:**
Panggilan ini menimbulkan pergumulan batin yang hebat dalam diri Van De Venter. Di satu sisi, ia memiliki passion untuk seni dan merasa betah dengan kehidupan yang stabil dan terhormat. Meninggalkan semua itu untuk menjadi penginjil purna waktu berarti menghadapi ketidakpastian finansial, kritik dari beberapa pihak, dan pengorbanan yang besar. Ia berjuang dengan keraguan, kekhawatiran tentang masa depan, dan godaan untuk tetap berada di zona nyamannya.

Ia mencoba menegosiasikan dengan Tuhan, ingin menahan sebagian dari dirinya, sebagian dari ambisinya, sebagian dari keinginannya. Ia mungkin berpikir, "Aku akan melayani Tuhan, tetapi aku juga ingin menjaga sebagian dari hidupku untuk diriku sendiri." Namun, setiap kali ia mencoba menahan sesuatu, ia merasakan kegelisahan yang mendalam. Ia merasa tidak sepenuhnya damai.

**Momen Penyerahan Total:**
Pergumulan ini mencapai puncaknya pada suatu malam di tahun 1896. Judson Van De Venter berada di rumahnya setelah menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani yang intens, atau mungkin di tengah-tengah salah satu pertemuan tersebut. Di tengah kesunyian atau mungkin di antara keramaian, ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menunda atau menahan diri. Ia harus membuat keputusan final: menyerahkan *semuanya* kepada Yesus, tanpa syarat.

Dalam momen pencerahan rohani itu, ia merasakan damai sejahtera yang luar biasa saat ia benar-benar melepaskan genggamannya dari semua yang ia pegang – karier, ambisi pribadi, kenyamanan, bahkan ketakutan akan masa depan. Ia menyerahkan *seluruh* hidupnya kepada Kristus.

Saat momen penyerahan diri itu terjadi, kata-kata yang kini kita kenal sebagai lirik "All To Jesus I Surrender" mulai mengalir dari hatinya. Ia segera mengambil pena dan kertas dan menuliskan baris-baris tersebut:

* *All to Jesus I surrender,* (Kepada Yesus ku berserah)
* *All to Him I freely give;* (Kepada-Nya semua ku beri)
* *I will ever love and trust Him,* (Ku kan s’lalu kasih dan percaya)
* *In His presence daily live.* (Dalam hadirat-Nya ku hidup)

Setiap bait mencerminkan perjalanannya, dari pengakuan keinginan untuk berserah, janji untuk melayani, hingga penemuan damai sejahtera dan sukacita dalam penyerahan diri. Kata "All" (semua) diulang-ulang, menekankan bahwa penyerahan yang ia alami dan tuliskan adalah penyerahan total, tanpa reservasi.

Setelah momen penulisan itu, Judson Van De Venter benar-benar meninggalkan karier seninya dan mengabdikan sisa hidupnya sebagai penginjil purna waktu. Ia melakukan perjalanan ekstensif, memimpin berbagai pertemuan kebangunan rohani di seluruh Amerika dan juga di Inggris, membawa banyak orang kepada Kristus.

---

### Winfield Scott Weeden: Melodi yang Mengangkat Lirik (1901)

**Latar Belakang dan Kolaborasi:**
Winfield Scott Weeden (lahir 1847) adalah seorang komposer, guru musik, dan penerbit himne yang produktif pada masanya. Ia dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang sederhana, indah, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat, yang sangat cocok untuk pertemuan-pertemuan kebangunan rohani.

Ketika lirik "All To Jesus I Surrender" oleh Judson Van De Venter mulai dikenal luas dalam lingkup pertemuan-pertemuan Kristen, Weeden tergerak oleh kekuatan pesannya. Pada tahun 1901, Weeden menciptakan melodi yang kini kita kenal untuk lirik-lirik tersebut.

Melodi yang diciptakan Weeden adalah perpaduan sempurna dengan lirik Van De Venter. Musiknya yang tenang namun penuh semangat, sederhana namun kuat, sangat mendukung pesan penyerahan diri yang tulus. Paduan melodi dan lirik ini menciptakan sebuah himne yang sangat kuat dan menyentuh jiwa.

**Publikasi dan Penyebaran:**
Lagu ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1896 (lirik) dan dengan melodi Weeden pada tahun 1901 dalam sebuah buku lagu berjudul "Songs of the Coming King" yang diterbitkan oleh Weeden sendiri. Sejak saat itu, "All To Jesus I Surrender" segera menyebar luas. Himne ini ditemukan di hampir setiap buku nyanyian gereja dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia.

---

### Warisan dan Dampak Lagu

Kisah di balik "All To Jesus I Surrender" adalah pengingat bahwa penyerahan diri total kepada Yesus bukanlah suatu kelemahan, melainkan sumber kekuatan, damai sejahtera, dan sukacita sejati. Lagu ini terus menginspirasi jutaan orang untuk merenungkan kehidupan mereka sendiri dan menjawab panggilan Tuhan untuk penyerahan diri yang tak bersyarat.

Dari pergumulan pribadi seorang seniman dan guru yang berbakat, lahir sebuah himne abadi yang terus menggema di hati orang-orang percaya, mendorong mereka untuk menyerahkan "semuanya" kepada Yesus.
Sama Tema Kebaktian
30
Haleluya Puji Miwah Panyuksema
KP
31
Baktinin Ida Sang Aji
KP
32
Sih Swecaning Sang Hyang Yesus Kristus
KP
33
Astiti Ring Sang Aji
KP
34
Dumadak Sih Sang Hyang Yesus
KP
35
Mugi Sih Swecaning Yesus
KP
36
Pangacep Titiang
KP
37
Manusa Jagi Kapaicain
KP
38
Pada Aturang Puji
KP
39
Ih Pra Kawulan Hyang Widi
KP
40
Ih Jadma Saduuring Gumi
KP
41
Ring Gunung Mwah Ring Pangkung
KP
42
Sang Hyang Widi Maha Luwih
KP
43
Ratun Titiang Sane Wenten Ring Swargan
KP
44
Sang Hyang Widi Suci
KP
45
Panglipuran Kayun Sungsut
KP
46
Ih Nak Ne Kateteh Dosa
KP
47
Maring Dija Ratun Titiang
KP
48
Oduh Ratu Sampunang Ja
KP
49
Tiang Ngrenga Sih Ida Turun
KP
50
Mrikija Nangkil Ring Hyang Yesus
KP
51
Sira Ne Leteh Tan Kalugra
KP
52
Yadiastu Dosan Titiang Ageng
KP
53
Mulih Ja Cening
KP
55
Nangkil Mangkin Ring Hyang Yesus
KP
56
Dosa Sida Kicalang
KP
57
Jagat Swecanin Hyang Widi
KP
58
Hyang Yesus Mesabda
KP
59
Elingang Parab Hyang Yesus
KP
60
Titiang Uning Wenten Kuri
KP
61
Ambate Ramennya
KP
62
Duh Jiwan Titiang Bingarja
KP
63
Sang Hyang Widi Ngempu Titiang
KP
64
Ih Jiwan Titiang Bingar Ja
KP
65
Titiang Muji-Muji Ratu
KP
66
Yan Ngiring Sang Hyang Yesus
KP
67
Titiang Ngandel Ring Yesus
KP
68
Sang Hyang Yesus Nuntun Titiang
KP
69
Sang Hyang Yesus Ratun Titiang
KP
70
Titiang Ngiring Sang Hyang Yesus
KP
71
Krahayuan Jroning Yesus
KP
72
Sang Hyang Yesus Switran Titiang
KP
73
Duh Ratu Dumadak Nantan Margin Titiang
KP
74
Dumadak Sih Swecan Aji
KP
75
Jadma Sane Leleh
KP
76
Titiang Meled Ring Umah Tiang
KP
77
Tiang Uning Wenten Jagat Langgeng
KP
78
Oduh Ratu Sang Hyang Yesus
KP
79
Wenten Prahu Malayar Ka Suwarga
KP
80
Rare Rare Puniki
KP
81
Sang Hyang Yesus Titiang Sami
KP
82
Duh Ratu Sang Maha Darma
KP
83
Titiang Niki Jadma Dosa
KP
84
Pasamuan Liang Nampi
KP
85
Duh Ratu Titiang Ngastawayang
KP
86
Sang Hyang Yesus Titiang Pacang
KP
87
Titiang Nyadia Ngiring Hyang Yesus
KP
88
Margi Iring Sang Hyang Yesus
KP
89
Duh Hyang Yesus Wit Kapitresnan
KP
90
Ambate Rahayu Sang Mapikuren
KP
91
Titiang Nangkil Sareng Sami
KP
92
Duh Ratu Titiang Sami Mriki
KP
93
Pangandikan Sang Hyang Widi
KP
94
Pasawur Pasamuan Ne Ring Pangubakti Ring Rahina Re
KP
95
Oduh Ratu Titiang Sami
KP
96
Oduh Ratu Sang Hyang Widi
KP
97
Suryane Sampun Surup
KP
98
Rahina Niki Wantah Kicen
KP
99
Nawegang Ratu Titiang Nunas
KP
100
Gentosing Sasih Tur Tahun
KP
101
Ceritan Sang Hyang Yesus
KP
102
Yening Ngiring Widi
KP
103
Sampunang Ajrih Kakewuhan
KP
104
Ida Sang Hyang Roh Suci
KP
105
Sang Hyang Widi Tuntun Titiang
KP
106
Yen Sampun Dawuhnya Rawuh
KP
107
Ring Purin Ida Sang Aji
KP
108
Duk Sang Hyang Yesus Kategenin Salib
KP
109
Titiang Tan Uning Napike Krana
KP
Kembali ke KP