Informasi Lagu
52
Nomor
Kode
KMM 52
Buku
Kidung Muda Mudi
Metronom
0
Cross Ref.
NKB 115, KK 349, GB 60
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik 2 slide
Slide 1 — KMM 52 1
Slide 2 — KMM 52 2
Partitur / Not
Partitur Chord KMM 52
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Firman-Mu, Tuhan, Adalah Kebun"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul *Thy Word Is Like a Garden, Lord*) adalah sebuah perjalanan yang melibatkan dua tokoh dari era yang berbeda, yang kemudian disatukan melalui sebuah karya literatur rohani yang abadi.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis Lirik: Edwin Hodder (1837–1904)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Edwin Hodder**, seorang penulis asal Inggris yang cukup produktif pada abad ke-19. Hodder dikenal karena menulis banyak buku biografi dan sastra anak-anak. Namun, kontribusinya yang paling bertahan lama bagi dunia musik gerejawi adalah puisi-puisi rohaninya.

Puisi aslinya berjudul *"Thy Word is Like a Garden, Lord"* pertama kali diterbitkan dalam bukunya yang berjudul *The New Sunday School Hymn Book* pada tahun 1863.

**Makna Lirik:**
Melalui liriknya, Hodder menggambarkan Alkitab bukan sebagai buku yang kering atau sekadar kumpulan aturan, melainkan sebagai **taman yang hidup**. Ia menggunakan metafora alam untuk menunjukkan bahwa Firman Tuhan adalah tempat di mana:
* Seseorang bisa berteduh (seperti di bawah pohon).
* Seseorang bisa menemukan "harta karun" (seperti menggali tanah).
* Seseorang bisa menemukan pertumbuhan (seperti benih yang disiram air).

Pesan utamanya adalah bahwa Alkitab adalah sumber kehidupan yang menyediakan segalanya bagi jiwa manusia yang sedang haus atau mencari kebenaran.

### 2. Komposer: William J. Reynolds (1920–2009)
Banyak orang yang saat ini menyanyikan lagu ini di gereja tidak menggunakan melodi abad ke-19, melainkan melodi yang sangat populer yang disusun oleh **William J. Reynolds**.

William J. Reynolds adalah seorang tokoh musik gerejawi yang sangat berpengaruh dari Amerika Serikat. Beliau adalah seorang pendidik, komposer, dan editor musik yang banyak bekerja untuk *Baptist Sunday School Board*. Beliau dikenal karena dedikasinya dalam memajukan kualitas musik di gereja-gereja.

Reynolds menggubah melodi untuk lirik Hodder ini untuk memberikan napas baru. Melodinya yang tenang, kontemplatif, dan mudah dinyanyikan (seringkali dengan nuansa *hymn* yang lembut) membuat pesan lirik Hodder menjadi jauh lebih personal dan menyentuh bagi jemaat modern.

### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu ini menjadi klasik karena metafora yang digunakan sangat kuat dan mudah dimengerti oleh segala usia:

* **Bait pertama:** Mengibaratkan Alkitab sebagai taman. Di taman itu ada benih yang ditanam (Firman) yang tumbuh di hati manusia.
* **Bait kedua:** Mengibaratkan Alkitab sebagai bintang di malam hari atau pedang di medan perang. Ini menekankan aspek bimbingan dan perlindungan Firman Tuhan dalam menghadapi dunia yang gelap atau penuh pergumulan.
* **Bait ketiga:** Mengibaratkan Alkitab sebagai harta karun yang harus digali. Ini menekankan pentingnya studi Alkitab yang mendalam—bahwa kita harus berusaha untuk menemukan kekayaan hikmat di dalamnya.

### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah pertemuan antara **kata-kata puitis dari abad ke-19** (Hodder) yang merindukan keintiman dengan Tuhan melalui pembacaan Alkitab, dengan **kepiawaian komposisi musik abad ke-20** (Reynolds) yang berhasil menerjemahkan kerinduan itu ke dalam nada yang menenangkan.

Lagu ini bukan sekadar puji-pujian, melainkan sebuah doa agar setiap orang yang membuka Alkitab merasakan pengalaman seperti masuk ke sebuah taman yang indah, di mana Tuhan sendiri yang menyambut dan memberi makan jiwa mereka.