Informasi Lagu
660
Nomor
Kode
KK 660
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Mangapul P. Simanjuntak
Pencipta Syair
Mangapul P. Simanjuntak
Cross Ref.
PKJ 170
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Terbitlah kini Sang Matahari sebagai tanda hari yang baru. Seluruh alam diterangi dan kegelapan sudah berlalu. Lebih dahulu kita lakukan: Mengucap syukur kepada Tuhan, karena Dia yang menjadikan malam gelap dan siang terang.
Seluruh satwa riang bernyanyi menyambut pagi dengan ceria. Kita pun patut bertírima kasih kepada Allah, Maha Pencipta.
Apa pun juga kita lakukan di dalam tugas dan tutur kata, kita lakukan di dalam Tuhan, sambil bersyukur kepada Allah.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 660 1
Slide 2 — KK 660 2
Slide 3 — KK 660 3
Slide 4 — KK 660 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 660
Sejarah Lagu
Lagu **"Terbitlah Kini Sang Matahari"** (atau dalam bahasa Jerman aslinya berjudul *„Mein schönste Zier und Kleinod bist“*) merupakan salah satu lagu rohani yang sangat dikenal dalam tradisi gereja-gereja di Indonesia, terutama yang memiliki latar belakang tradisi Lutheran atau HKBP.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:

### 1. Asal-Usul (Latar Belakang Jerman)
Lagu ini bukan lagu asli yang diciptakan Mangapul P. Simanjuntak sebagai komposisi musik baru. Lagu ini merupakan adaptasi dari himne Jerman yang sangat tua.

* **Pencipta Asli:** Lirik aslinya ditulis oleh **Johann Heermann (1585–1647)**, seorang penyair himne asal Jerman yang hidup di masa Perang Tiga Puluh Tahun yang penuh penderitaan.
* **Melodi:** Melodinya diciptakan oleh **Johann Crüger**, seorang komponis Jerman terkemuka pada zamannya.
* **Makna Asli:** Dalam bahasa Jerman, *„Mein schönste Zier und Kleinod bist“* secara harfiah berarti "Engkau adalah perhiasan dan permata terindahku." Lagu ini adalah ungkapan kasih yang mendalam dari seorang percaya kepada Yesus Kristus, yang dianggap sebagai harta paling berharga dibandingkan segala kemegahan dunia.

### 2. Peran Mangapul P. Simanjuntak
Pdt. Dr. Mangapul P. Simanjuntak, seorang teolog dan pengkhotbah ternama di Indonesia, dikenal sangat mencintai himne-himne klasik. Peran beliau dalam lagu ini bukanlah sebagai "pencipta melodi," melainkan sebagai **penerjemah dan penyadur** yang membawa pesan teologis himne tersebut ke dalam konteks bahasa Indonesia.

* **Adaptasi Lirik:** Mangapul Simanjuntak menerjemahkan esensi dari lirik Johann Heermann dengan gaya bahasa yang puitis namun tetap mempertahankan kedalaman teologisnya. Ia mengubah nuansa lagu tersebut menjadi lebih kontemplatif dan penuh syukur.
* **Tujuan:** Beliau ingin agar jemaat di Indonesia dapat merasakan kedalaman hubungan pribadi dengan Kristus, sebagaimana yang dirasakan oleh penulis aslinya, Johann Heermann, di tengah tekanan hidup yang berat.

### 3. Makna Teologis di Balik Lagu
Lagu ini memiliki kedalaman makna yang sering kali luput jika hanya dinyanyikan secara sekilas. Berikut adalah poin-poin utamanya:

1. **Kristus sebagai Harta Utama:** Judul *"Mein schönste Zier"* menegaskan bahwa di mata orang percaya, tidak ada kekayaan, status, atau keindahan duniawi yang bisa menandingi kehadiran Yesus dalam hidup mereka.
2. **Penyerahan Diri:** Lirik lagu ini mencerminkan sikap seorang pengikut Kristus yang pasrah dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada "Sang Matahari" (metafora untuk terang Kristus).
3. **Pengharapan di Tengah Kegelapan:** Mengingat lagu ini ditulis oleh Johann Heermann saat terjadi perang besar di Eropa, lagu ini sebenarnya adalah bentuk **pengharapan**. Ketika dunia di sekitar tampak gelap (karena perang/penderitaan), kehadiran Kristus adalah "matahari" yang terbit dan memberikan kehangatan serta kepastian.

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Di kalangan gereja-gereja di Indonesia (khususnya melalui buku nyanyian gerejawi), lagu ini sering dinyanyikan sebagai lagu pembuka ibadah atau saat perjamuan kudus.

* **Kekuatan Lirik:** Terjemahan yang dilakukan Mangapul Simanjuntak terasa sangat menyentuh hati karena pemilihan kata-kata yang terasa sangat intim dengan Tuhan.
* **Kekayaan Melodi:** Melodi klasik Johann Crüger memiliki karakteristik yang megah namun tenang, memberikan rasa khidmat (kudus) saat dinyanyikan oleh jemaat.

### Kesimpulan
Jadi, kisah di balik lagu ini adalah sebuah **jembatan waktu dan budaya**. Sebuah ungkapan iman seorang Jerman di abad ke-17 yang mengalami perang, disadur kembali oleh seorang teolog Indonesia (Mangapul P. Simanjuntak) untuk meneguhkan iman umat Kristen modern di Indonesia agar tetap menjadikan Kristus sebagai "perhiasan dan permata terindah" di tengah kehidupan dunia yang terus berubah.

Jika Anda mendengarkan lagu ini, perhatikanlah bagian liriknya—di sanalah "kisah" sebenarnya tersimpan: tentang bagaimana seseorang menemukan penghiburan yang tak tergantikan di dalam kasih Yesus Kristus.