KK
Aku Gereja, 'Kau Pun Gereja
We Are The Church
Informasi Lagu
567
Nomor
do = g
Nada Dasar
Kode
KK 567
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do = g
Metronom
112
Jumlah Bait
4 bait
Style
Country2-4
Pencipta Lagu
Richard Kinsey Avery (1978)
Pencipta Syair
Donald Stuart Marsh (1978)
Penerjemah
Alfred Simanjuntak (1978)
Cross Ref.
KJ 257, KC 185
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Gereja bukanlah gedungnya,
dan bukan pula menaranya:
bukalah pintunya, lihat di dalamnya,
Gereja adalah orangnya.
Reff
Berbagai macam manusia,
terdiri dari bangsa-bangsa,
lain bahasanya dan warna kulitnya,
tempatnya pun berbeda juga.
Reff
Di waktu hari Pentakosta
Roh Kudus turunlah ke dunia;
G’reja disuruh-Nya membawa berita
kepada umat manusia.
Reff
Aku Gereja, ‘kau pun Gereja,
kita sama-sama Gereja
dan pengikut Yesus di seluruh dunia
kita sama-sama Gereja.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu "Aku Gereja, Kau Pun Gereja" atau aslinya berjudul "We Are The Church" adalah salah satu lagu gerejawi paling ikonik dan berpengaruh yang pernah ditulis. Di balik melodi yang sederhana namun ceria dan lirik yang lugas, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah pertanyaan anak kecil dapat memicu pergeseran paradigma teologis yang mendalam.
Mari kita selami kisah detail di balik lagu ini:
### **1. Para Pengarang: Richard Kinsey Avery dan Donald Stuart Marsh**
Lagu ini adalah hasil kolaborasi antara dua individu berbakat yang mendedikasikan hidup mereka untuk pelayanan gereja melalui musik dan teologi:
* **Richard Kinsey Avery (Lirik):** Seorang pendeta Methodist, teolog, dan profesor yang memiliki hati untuk pelayanan pastoral dan pengajaran yang relevan. Avery dikenal karena kemampuannya menyampaikan kebenaran teologis yang kompleks dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, terutama bagi anak-anak. Ia percaya bahwa iman harus membumi dan aktif dalam kehidupan sehari-hari.
* **Donald Stuart Marsh (Musik):** Seorang organis gereja, pemimpin paduan suara, dan komposer yang piawai dalam menciptakan melodi yang mudah dinyanyikan dan diingat. Marsh memiliki bakat alami untuk menulis musik yang bisa diadaptasi oleh jemaat dari segala usia dan latar belakang musikal.
Keduanya adalah bagian dari gerakan pada tahun 1970-an yang berusaha merevitalisasi musik gereja, menjauhi formalitas berlebihan menuju lagu-lagu yang lebih partisipatif, personal, dan relevan dengan pengalaman umat.
### **2. Konteks Waktu: Gereja di Tahun 1970-an**
Tahun 1970-an adalah masa pergolakan dan perubahan besar, baik di masyarakat maupun di dalam gereja.
* **Pasca Konsili Vatikan II:** Meskipun Avery dan Marsh adalah Protestan, semangat dari Konsili Vatikan II (yang berakhir pada tahun 1965) memiliki dampak lintas denominasi. Salah satu tema sentral Konsili adalah konsep "Umat Allah" (People of God), yang menekankan peran aktif setiap anggota gereja, bukan hanya klerus. Ini adalah pergeseran dari pandangan gereja sebagai hirarki atau institusi semata.
* **Gerakan Hak-hak Sipil dan Keadilan Sosial:** Ada kesadaran yang semakin besar tentang perlunya gereja untuk terlibat dalam isu-isu sosial, keadilan, dan perubahan dunia. Ini menantang gagasan gereja sebagai tempat "istirahat" dari dunia, dan mendorongnya untuk menjadi agen perubahan.
* **Musik Rakyat (Folk Music) dan Perubahan Musik Gereja:** Pengaruh musik folk dan melodi yang lebih kontemporer mulai meresap ke dalam liturgi gereja, menawarkan alternatif dari himne-himne tradisional yang terkadang dirasa kaku dan kurang ekspresif bagi generasi muda.
Dalam konteks inilah, kebutuhan akan lagu yang menegaskan kembali identitas gereja sebagai komunitas yang hidup dan aktif menjadi sangat mendesak.
### **3. Momen Pencerahan: Sebuah Pertanyaan Anak Kecil**
Kisah paling terkenal di balik lagu ini berasal dari Richard Avery sendiri. Saat Avery mengajar kelas Sekolah Minggu, seorang anak kecil mengajukan pertanyaan yang tampaknya sederhana namun sangat mendalam:
**"Apa itu gereja?"**
Avery menyadari bahwa ia tidak ingin memberikan jawaban teologis yang rumit atau definisi yang hanya berpusat pada bangunan fisik. Ia tahu bahwa banyak orang, termasuk anak-anak, cenderung mengasosiasikan "gereja" dengan gedung tempat mereka beribadah. Namun, di dalam hatinya, Avery tahu bahwa esensi gereja jauh melampaui bata dan mortir.
Momen ini menjadi katalisator. Avery kemudian merenungkan pertanyaan itu dan menyadari kebenaran fundamental: **Gereja bukanlah sebuah bangunan; gereja adalah umatnya.**
### **4. Dari Ide menjadi Lirik**
Dengan pencerahan itu, Avery mulai merangkai kata-kata. Ia ingin liriknya langsung dan mudah dipahami oleh anak-anak, tetapi juga memiliki kedalaman teologis bagi orang dewasa. Ia menulis baris-baris ikonik yang secara langsung menantang kesalahpahaman umum tentang gereja:
* "The church is not a building; the church is not a steeple; the church is not a resting place; the church is a people." (Gereja bukanlah gedung; gereja bukanlah menara; gereja bukanlah tempat istirahat; gereja adalah umat.)
* Ia menekankan aspek komunitas: "We are the church, you are the church, we are the church together." (Kita adalah gereja, kamu adalah gereja, kita adalah gereja bersama-sama.)
* Dan yang terpenting, ia menghubungkan gereja dengan misinya di dunia: "There's work to be done, there's a message to give, there's a life to be lived." (Ada pekerjaan yang harus dilakukan, ada pesan yang harus disampaikan, ada kehidupan yang harus dihidupi.)
* "Jesus is the head." (Yesus adalah kepala.) – Menegaskan Kristus sebagai pusat identitas dan misi gereja.
Lirik ini merangkum esensi dari teologi gereja yang berfokus pada umat, panggilan untuk beraksi, dan Kristus sebagai pemimpin.
### **5. Melodi yang Tak Terlupakan: Karya Donald Marsh**
Setelah Avery menyelesaikan liriknya, ia menyerahkannya kepada Donald Marsh untuk memberinya melodi. Marsh adalah seorang ahli dalam menciptakan lagu-lagu yang mudah dinyanyikan dan menarik. Ia menangkap semangat lirik Avery dan menciptakan melodi yang:
* **Sederhana:** Mudah dipelajari dan diingat, bahkan oleh anak-anak kecil.
* **Ceria:** Menggambarkan sukacita dan energi dari konsep "gereja sebagai umat yang hidup."
* **Folk-like:** Mirip dengan lagu-lagu rakyat, membuatnya terasa akrab dan tidak terlalu formal.
Kolaborasi ini menghasilkan sebuah lagu yang sempurna: lirik yang kuat dan relevan bertemu dengan melodi yang mudah diakses dan menyenangkan.
### **6. Dampak dan Warisan: Sebuah Lagu Global**
Setelah dirilis, "We Are The Church" dengan cepat menyebar dan menjadi fenomena global.
* **Inklusi dan Pemberdayaan:** Lagu ini memberikan resonansi kuat dengan jemaat dari segala usia. Bagi anak-anak, lagu ini menjadi salah satu cara pertama mereka memahami peran mereka di dalam gereja. Bagi orang dewasa, lagu ini menegaskan kembali konsep "imamat am orang percaya" – bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam tubuh Kristus.
* **Lintas Denominasi:** Lagu ini diterima dengan antusiasme oleh berbagai denominasi Protestan, bahkan sering dinyanyikan di gereja Katolik dan gereja-gereja independen. Pesannya yang universal melampaui batas-batas denominasi.
* **Panggilan untuk Bertindak:** Lebih dari sekadar definisi, lagu ini adalah panggilan untuk beraksi. Ini mengingatkan umat bahwa gereja bukanlah tempat pasif untuk dikunjungi, melainkan komunitas aktif yang dipanggil untuk membawa terang dan garam Kristus ke dunia. "There's work to be done" menjadi semacam moto.
* **Terjemahan Berbagai Bahasa:** Popularitasnya menyebabkan lagu ini diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia sebagai "Aku Gereja, Kau Pun Gereja." Di Indonesia, lagu ini juga menjadi sangat populer, dinyanyikan di berbagai acara gerejawi, sekolah minggu, hingga ibadah raya.
Hingga hari ini, "Aku Gereja, Kau Pun Gereja" tetap menjadi lagu yang relevan dan sering dinyanyikan. Lagu ini terus mengajarkan generasi demi generasi bahwa gereja bukan hanya bangunan di sudut jalan, melainkan umat Tuhan yang hidup dan bergerak, yang dipanggil untuk melayani dan menjadi terang di tengah dunia. Itu adalah warisan abadi dari pertanyaan seorang anak dan respons ilham dari dua hamba Tuhan.
Mari kita selami kisah detail di balik lagu ini:
### **1. Para Pengarang: Richard Kinsey Avery dan Donald Stuart Marsh**
Lagu ini adalah hasil kolaborasi antara dua individu berbakat yang mendedikasikan hidup mereka untuk pelayanan gereja melalui musik dan teologi:
* **Richard Kinsey Avery (Lirik):** Seorang pendeta Methodist, teolog, dan profesor yang memiliki hati untuk pelayanan pastoral dan pengajaran yang relevan. Avery dikenal karena kemampuannya menyampaikan kebenaran teologis yang kompleks dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, terutama bagi anak-anak. Ia percaya bahwa iman harus membumi dan aktif dalam kehidupan sehari-hari.
* **Donald Stuart Marsh (Musik):** Seorang organis gereja, pemimpin paduan suara, dan komposer yang piawai dalam menciptakan melodi yang mudah dinyanyikan dan diingat. Marsh memiliki bakat alami untuk menulis musik yang bisa diadaptasi oleh jemaat dari segala usia dan latar belakang musikal.
Keduanya adalah bagian dari gerakan pada tahun 1970-an yang berusaha merevitalisasi musik gereja, menjauhi formalitas berlebihan menuju lagu-lagu yang lebih partisipatif, personal, dan relevan dengan pengalaman umat.
### **2. Konteks Waktu: Gereja di Tahun 1970-an**
Tahun 1970-an adalah masa pergolakan dan perubahan besar, baik di masyarakat maupun di dalam gereja.
* **Pasca Konsili Vatikan II:** Meskipun Avery dan Marsh adalah Protestan, semangat dari Konsili Vatikan II (yang berakhir pada tahun 1965) memiliki dampak lintas denominasi. Salah satu tema sentral Konsili adalah konsep "Umat Allah" (People of God), yang menekankan peran aktif setiap anggota gereja, bukan hanya klerus. Ini adalah pergeseran dari pandangan gereja sebagai hirarki atau institusi semata.
* **Gerakan Hak-hak Sipil dan Keadilan Sosial:** Ada kesadaran yang semakin besar tentang perlunya gereja untuk terlibat dalam isu-isu sosial, keadilan, dan perubahan dunia. Ini menantang gagasan gereja sebagai tempat "istirahat" dari dunia, dan mendorongnya untuk menjadi agen perubahan.
* **Musik Rakyat (Folk Music) dan Perubahan Musik Gereja:** Pengaruh musik folk dan melodi yang lebih kontemporer mulai meresap ke dalam liturgi gereja, menawarkan alternatif dari himne-himne tradisional yang terkadang dirasa kaku dan kurang ekspresif bagi generasi muda.
Dalam konteks inilah, kebutuhan akan lagu yang menegaskan kembali identitas gereja sebagai komunitas yang hidup dan aktif menjadi sangat mendesak.
### **3. Momen Pencerahan: Sebuah Pertanyaan Anak Kecil**
Kisah paling terkenal di balik lagu ini berasal dari Richard Avery sendiri. Saat Avery mengajar kelas Sekolah Minggu, seorang anak kecil mengajukan pertanyaan yang tampaknya sederhana namun sangat mendalam:
**"Apa itu gereja?"**
Avery menyadari bahwa ia tidak ingin memberikan jawaban teologis yang rumit atau definisi yang hanya berpusat pada bangunan fisik. Ia tahu bahwa banyak orang, termasuk anak-anak, cenderung mengasosiasikan "gereja" dengan gedung tempat mereka beribadah. Namun, di dalam hatinya, Avery tahu bahwa esensi gereja jauh melampaui bata dan mortir.
Momen ini menjadi katalisator. Avery kemudian merenungkan pertanyaan itu dan menyadari kebenaran fundamental: **Gereja bukanlah sebuah bangunan; gereja adalah umatnya.**
### **4. Dari Ide menjadi Lirik**
Dengan pencerahan itu, Avery mulai merangkai kata-kata. Ia ingin liriknya langsung dan mudah dipahami oleh anak-anak, tetapi juga memiliki kedalaman teologis bagi orang dewasa. Ia menulis baris-baris ikonik yang secara langsung menantang kesalahpahaman umum tentang gereja:
* "The church is not a building; the church is not a steeple; the church is not a resting place; the church is a people." (Gereja bukanlah gedung; gereja bukanlah menara; gereja bukanlah tempat istirahat; gereja adalah umat.)
* Ia menekankan aspek komunitas: "We are the church, you are the church, we are the church together." (Kita adalah gereja, kamu adalah gereja, kita adalah gereja bersama-sama.)
* Dan yang terpenting, ia menghubungkan gereja dengan misinya di dunia: "There's work to be done, there's a message to give, there's a life to be lived." (Ada pekerjaan yang harus dilakukan, ada pesan yang harus disampaikan, ada kehidupan yang harus dihidupi.)
* "Jesus is the head." (Yesus adalah kepala.) – Menegaskan Kristus sebagai pusat identitas dan misi gereja.
Lirik ini merangkum esensi dari teologi gereja yang berfokus pada umat, panggilan untuk beraksi, dan Kristus sebagai pemimpin.
### **5. Melodi yang Tak Terlupakan: Karya Donald Marsh**
Setelah Avery menyelesaikan liriknya, ia menyerahkannya kepada Donald Marsh untuk memberinya melodi. Marsh adalah seorang ahli dalam menciptakan lagu-lagu yang mudah dinyanyikan dan menarik. Ia menangkap semangat lirik Avery dan menciptakan melodi yang:
* **Sederhana:** Mudah dipelajari dan diingat, bahkan oleh anak-anak kecil.
* **Ceria:** Menggambarkan sukacita dan energi dari konsep "gereja sebagai umat yang hidup."
* **Folk-like:** Mirip dengan lagu-lagu rakyat, membuatnya terasa akrab dan tidak terlalu formal.
Kolaborasi ini menghasilkan sebuah lagu yang sempurna: lirik yang kuat dan relevan bertemu dengan melodi yang mudah diakses dan menyenangkan.
### **6. Dampak dan Warisan: Sebuah Lagu Global**
Setelah dirilis, "We Are The Church" dengan cepat menyebar dan menjadi fenomena global.
* **Inklusi dan Pemberdayaan:** Lagu ini memberikan resonansi kuat dengan jemaat dari segala usia. Bagi anak-anak, lagu ini menjadi salah satu cara pertama mereka memahami peran mereka di dalam gereja. Bagi orang dewasa, lagu ini menegaskan kembali konsep "imamat am orang percaya" – bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam tubuh Kristus.
* **Lintas Denominasi:** Lagu ini diterima dengan antusiasme oleh berbagai denominasi Protestan, bahkan sering dinyanyikan di gereja Katolik dan gereja-gereja independen. Pesannya yang universal melampaui batas-batas denominasi.
* **Panggilan untuk Bertindak:** Lebih dari sekadar definisi, lagu ini adalah panggilan untuk beraksi. Ini mengingatkan umat bahwa gereja bukanlah tempat pasif untuk dikunjungi, melainkan komunitas aktif yang dipanggil untuk membawa terang dan garam Kristus ke dunia. "There's work to be done" menjadi semacam moto.
* **Terjemahan Berbagai Bahasa:** Popularitasnya menyebabkan lagu ini diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia sebagai "Aku Gereja, Kau Pun Gereja." Di Indonesia, lagu ini juga menjadi sangat populer, dinyanyikan di berbagai acara gerejawi, sekolah minggu, hingga ibadah raya.
Hingga hari ini, "Aku Gereja, Kau Pun Gereja" tetap menjadi lagu yang relevan dan sering dinyanyikan. Lagu ini terus mengajarkan generasi demi generasi bahwa gereja bukan hanya bangunan di sudut jalan, melainkan umat Tuhan yang hidup dan bergerak, yang dipanggil untuk melayani dan menjadi terang di tengah dunia. Itu adalah warisan abadi dari pertanyaan seorang anak dan respons ilham dari dua hamba Tuhan.