KC
Betapa Kita Tidak Bersyukur
Beta Kita Tidak Bersyukur
Informasi Lagu
366
Nomor
Kode
KC 366
Buku
Kidung Ceria
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Style
Country2-4
Pencipta Lagu
Subronto K. Atmodjo
Pencipta Syair
Subronto K. Atmodjo
Cross Ref.
KK 719, KJ 337, NP 350, PS 707, MB 489
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Betapa kita tidak bersyukur
bertanah air kaya dan subur;
lautnya luas, gunungnya megah,
menghijau padang, bukit dan lembah.
Reff
Itu semua berkat karunia
Allah yang Agung, Mahakuasa;
Itu semua berkat karunia
Allah yang Agung, Mahakuasa.
Alangkah indah pagi merekah
bermandi cahya surya nan cerah,
ditingkah kicau burung tak henti,
bunga pun bangkit harum berseri.
Reff
Bumi yang hijau, langitnya terang,
berpadu dalam warna cemerlang;
indah jelita, damai dan teduh,
persada kita jaya dan teguh.
Reff
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Betapa Kita Tidak Bersyukur"** adalah salah satu lagu rohani yang sangat ikonik di Indonesia, terutama di kalangan umat Kristiani. Lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian gereja karena liriknya yang dalam, puitis, dan penuh rasa syukur atas keindahan alam semesta ciptaan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok Sang Pencipta: Subronto K. Atmodjo
Banyak orang yang mengira Subronto K. Atmodjo adalah seorang komponis lagu rohani murni, namun kenyataannya beliau adalah seorang **tokoh musik klasik dan pendidik musik yang sangat dihormati di Indonesia.**
Subronto K. Atmodjo (1922–1993) adalah lulusan *Conservatorium van de Vereniging Muziekschool* di Jakarta. Beliau dikenal sebagai komposer, konduktor, dan pengajar. Beliau juga pernah menjabat sebagai Direktur Pendidikan Kesenian di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Latar belakang pendidikan musik klasiknya yang kuat membuat lagu-lagu gubahannya memiliki struktur melodi yang sangat indah, harmonis, dan tidak pasaran.
### 2. Inspirasi di Balik Lagu
Lagu ini bukan lahir dari sebuah peristiwa tragis atau kejadian mendadak, melainkan lahir dari **kontemplasi (perenungan) akan kebesaran alam semesta.**
Subronto menulis lagu ini dengan semangat untuk mengajak pendengarnya berhenti sejenak dari kesibukan duniawi dan melihat ke sekeliling. Liriknya secara spesifik merinci keindahan ciptaan Tuhan:
* *Tanah air yang indah dan permai.*
* *Gunung yang menjulang tinggi.*
* *Hamparan sawah dan laut yang luas.*
* *Burung-burung yang berkicau.*
Kisah di balik lagu ini adalah tentang **kesadaran akan "anugerah Tuhan yang terabaikan".** Subronto ingin menyampaikan bahwa manusia sering kali terlalu sibuk dengan urusan hidup hingga lupa bersyukur atas hal-hal mendasar yang Tuhan sediakan setiap hari, seperti udara, keindahan alam, dan kehidupan itu sendiri.
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Judul lagu ini dimulai dengan kalimat retoris: *"Betapa kita tidak bersyukur..."* Kalimat ini sebenarnya adalah teguran lembut bagi diri sendiri.
* **Bait pertama** fokus pada keindahan alam Indonesia (tanah air yang permai).
* **Bait kedua** menyoroti aspek kehidupan dan rezeki (berkat yang melimpah).
* **Bagian Refrain:** *"BagiMu Tuhan, bagiMu Allah, kami persembahkan hidup kami."* Ini adalah puncak dari seluruh lagu, di mana setelah melihat keindahan ciptaan-Nya, respons yang paling tepat dari manusia adalah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Sang Pencipta sebagai bentuk rasa syukur.
### 4. Nuansa Musik dan Aransemen
Sebagai seorang musisi klasik, Subronto merancang lagu ini dengan melodi yang mengalir (melodik). Lagu ini tidak memiliki tempo yang terlalu cepat, melainkan dengan tempo yang tenang, yang mendukung suasana saat berdoa atau berefleksi. Harmonisasi yang ia buat memberikan kesan megah sekaligus intim, itulah sebabnya lagu ini bertahan lintas generasi.
### 5. Warisan Lagu
Meskipun Subronto K. Atmodjo bukan seorang teolog, melalui lagu ini, beliau berhasil menciptakan "doa dalam bentuk musik". Lagu ini menjadi salah satu bukti bahwa karya seni yang lahir dari kejujuran rasa syukur akan tetap relevan sepanjang zaman.
Hingga hari ini, lagu "Betapa Kita Tidak Bersyukur" menjadi lagu wajib di banyak gereja di Indonesia. Lagu ini sering dibawakan saat ibadah perayaan syukur, panen, atau saat jemaat diajak untuk merenungkan kebaikan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah **sebuah ajakan untuk menumbuhkan sikap batiniah (inner attitude) berupa rasa syukur.** Subronto K. Atmodjo, melalui keahlian musiknya, berhasil menerjemahkan kekaguman manusia terhadap alam ciptaan Tuhan menjadi sebuah kidung yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga mampu menyentuh relung hati terdalam setiap orang yang menyanyikannya.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Sosok Sang Pencipta: Subronto K. Atmodjo
Banyak orang yang mengira Subronto K. Atmodjo adalah seorang komponis lagu rohani murni, namun kenyataannya beliau adalah seorang **tokoh musik klasik dan pendidik musik yang sangat dihormati di Indonesia.**
Subronto K. Atmodjo (1922–1993) adalah lulusan *Conservatorium van de Vereniging Muziekschool* di Jakarta. Beliau dikenal sebagai komposer, konduktor, dan pengajar. Beliau juga pernah menjabat sebagai Direktur Pendidikan Kesenian di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Latar belakang pendidikan musik klasiknya yang kuat membuat lagu-lagu gubahannya memiliki struktur melodi yang sangat indah, harmonis, dan tidak pasaran.
### 2. Inspirasi di Balik Lagu
Lagu ini bukan lahir dari sebuah peristiwa tragis atau kejadian mendadak, melainkan lahir dari **kontemplasi (perenungan) akan kebesaran alam semesta.**
Subronto menulis lagu ini dengan semangat untuk mengajak pendengarnya berhenti sejenak dari kesibukan duniawi dan melihat ke sekeliling. Liriknya secara spesifik merinci keindahan ciptaan Tuhan:
* *Tanah air yang indah dan permai.*
* *Gunung yang menjulang tinggi.*
* *Hamparan sawah dan laut yang luas.*
* *Burung-burung yang berkicau.*
Kisah di balik lagu ini adalah tentang **kesadaran akan "anugerah Tuhan yang terabaikan".** Subronto ingin menyampaikan bahwa manusia sering kali terlalu sibuk dengan urusan hidup hingga lupa bersyukur atas hal-hal mendasar yang Tuhan sediakan setiap hari, seperti udara, keindahan alam, dan kehidupan itu sendiri.
### 3. Makna Lirik yang Mendalam
Judul lagu ini dimulai dengan kalimat retoris: *"Betapa kita tidak bersyukur..."* Kalimat ini sebenarnya adalah teguran lembut bagi diri sendiri.
* **Bait pertama** fokus pada keindahan alam Indonesia (tanah air yang permai).
* **Bait kedua** menyoroti aspek kehidupan dan rezeki (berkat yang melimpah).
* **Bagian Refrain:** *"BagiMu Tuhan, bagiMu Allah, kami persembahkan hidup kami."* Ini adalah puncak dari seluruh lagu, di mana setelah melihat keindahan ciptaan-Nya, respons yang paling tepat dari manusia adalah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Sang Pencipta sebagai bentuk rasa syukur.
### 4. Nuansa Musik dan Aransemen
Sebagai seorang musisi klasik, Subronto merancang lagu ini dengan melodi yang mengalir (melodik). Lagu ini tidak memiliki tempo yang terlalu cepat, melainkan dengan tempo yang tenang, yang mendukung suasana saat berdoa atau berefleksi. Harmonisasi yang ia buat memberikan kesan megah sekaligus intim, itulah sebabnya lagu ini bertahan lintas generasi.
### 5. Warisan Lagu
Meskipun Subronto K. Atmodjo bukan seorang teolog, melalui lagu ini, beliau berhasil menciptakan "doa dalam bentuk musik". Lagu ini menjadi salah satu bukti bahwa karya seni yang lahir dari kejujuran rasa syukur akan tetap relevan sepanjang zaman.
Hingga hari ini, lagu "Betapa Kita Tidak Bersyukur" menjadi lagu wajib di banyak gereja di Indonesia. Lagu ini sering dibawakan saat ibadah perayaan syukur, panen, atau saat jemaat diajak untuk merenungkan kebaikan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
**Kesimpulan:**
Kisah di balik lagu ini adalah **sebuah ajakan untuk menumbuhkan sikap batiniah (inner attitude) berupa rasa syukur.** Subronto K. Atmodjo, melalui keahlian musiknya, berhasil menerjemahkan kekaguman manusia terhadap alam ciptaan Tuhan menjadi sebuah kidung yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga mampu menyentuh relung hati terdalam setiap orang yang menyanyikannya.
Cross Reference
KK 719, KJ 337, NP 350, PS 707, MB 489
Betapa Kita Tidak Bersyukur
KJ
Betapa Tidak Kita Bersyukur
KK
Betapa kita tidak bersyukur
MB
Betapa Kita Tidak Bersyukur
NP
Betapa tidak kita bersyukur
PS
Sama Tema
Hari-hari Raya Nasional
Aneka Bunga Berkembang
KC
Syukur Bagi-Mu, Tuhan
KC
Lambaian Nyiur Dan Alun Ombak
KC
Berbakti
KC
Tanah Air Indonesia
KC
Curahkan Hatiku
KC
Bendera Kita
KC
Bendera Kita
KC
Sang Merah Putih
KC
Putra Pertiwi
KC
Indonesia Tanahku
KC
Negara Pancasila
KC
Satu Tanah Air
KC
Indonesia Raya
KC
Hari Merdeka
KC
Dari Sabang Sampai Merauke
KC
Maju Tak Gentar
KC
Mars Pancasila
KC
Bagimu Negeri
KC
Merah Putih
KC
Berkibarlah Benderaku
KC
Hallo, Hallo Bandung
KC
Rayuan Pulau Kelapa
KC
Indonesia Tetap Merdeka
KC
Syukur
KC
Bangun, Pemudi Pemuda
KC
Mengheningkan Cipta
KC
Bhinneka Tunggal Ika
KC
Tanah Tumpah Darahku
KC
Indonesia Pusaka
KC
Tanah Air (Nyiur Hijau)
KC
Ibu Kita Kartini
KC
Hymne Guru
KC
Wajib Belajar
KC