BE
Tuhan Jesus Kristus Asi Ma Roham
Informasi Lagu
862
Nomor
Kode
BE 862
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KK 110a, KJ 42, BN 862
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
Tuhan Jesus Kristus asi ma rohaM
Asi ma rohaM di au Tuhan.
Slide Lirik
1 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Tuhan, Kasihanilah" (Kyrie, Eleison)** dalam tradisi Ortodoks, khususnya yang sering disebut sebagai "Karya Liturgi Ortodoks Kiev" atau *Kyrie Eleison* tradisional, adalah sebuah perjalanan sejarah yang menembus ribuan tahun, menghubungkan akar Kekristenan mula-mula dengan budaya musik spiritual Slavia yang mendalam.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu dan seruan liturgis ini:
### 1. Akar Kata: Bukan Bahasa Yunani Biasa
*Kyrie, Eleison* berasal dari bahasa Yunani: *Kyrie* (Tuhan/Tuan) dan *Eleison* (kasihanilah/berbelaskasihlah).
Dalam sejarah Romawi kuno, seruan *"Kyrie, eleison"* bukanlah istilah religius pada awalnya, melainkan **seruan rakyat kepada kaisar** saat ia memasuki kota. Rakyat akan berteriak memohon belas kasihan atau keadilan. Gereja perdana mengadopsi frasa ini sebagai bentuk pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah "Kaisar di atas segala kaisar" yang sejati, yang kepada-Nya umat manusia memohon belas kasihan.
### 2. Tradisi Liturgi Kiev (Slavia)
Ketika Kekristenan masuk ke wilayah Rus Kiev (cikal bakal Ukraina, Rusia, dan Belarusia) pada tahun 988 M melalui pembaptisan Pangeran Vladimir, mereka tidak hanya membawa iman, tetapi juga tradisi liturgi Bizantium (Konstantinopel).
Namun, tradisi Kiev mengembangkan **khasanah musiknya sendiri**. Berbeda dengan nyanyian Bizantium yang monofonik (satu suara) dan bernada tinggi, tradisi Kiev perlahan-lahan mengadopsi harmoni yang lebih dalam, lambat, dan khusyuk.
"Karya" atau komposisi *Kyrie, Eleison* yang sering kita dengar dalam gaya Kiev ini memiliki karakteristik:
* **Melodi yang "Meditatif":** Dirancang bukan untuk pertunjukan, melainkan untuk membawa jiwa ke dalam keheningan yang mendalam.
* **Pengulangan:** Pengulangan kata *Kyrie, Eleison* yang konstan melambangkan "doa yang tak putus-putusnya" (seperti doa Yesus).
### 3. Mengapa Lagu ini Begitu "Menghantui"?
Karya tradisional Kiev sering menggunakan tangga nada minor yang sangat dalam. Ini mencerminkan **teologi penderitaan dan harapan**. Bagi umat Ortodoks Kiev, lagu ini bukan sekadar permintaan tolong, melainkan sebuah **pengakuan akan ketidaklayakan manusia di hadapan Allah yang kudus**, sekaligus keyakinan akan kasih setia-Nya.
Dalam tradisi ini, lagu tersebut biasanya dinyanyikan dengan tempo yang sangat lambat, seolah-olah setiap nada adalah napas. Ini bukan tentang kemegahan vokal, tetapi tentang *kenosis* (pengosongan diri).
### 4. Makna Spiritual di Balik Melodinya
Dalam Liturgi Ortodoks, *Kyrie, Eleison* adalah inti dari setiap doa. Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang:
* **Kerendahan Hati:** Mengakui bahwa kita tidak memiliki apa-apa tanpa kasih Allah.
* **Universalitas:** Karena menggunakan bahasa Yunani dalam liturgi Slavia, ini menunjukkan bahwa Gereja Ortodoks adalah gereja yang melintasi batas bahasa dan bangsa.
* **Ketabahan:** Tradisi Kiev ditempa oleh sejarah yang penuh dengan invasi, perang, dan penderitaan (seperti invasi Mongol). Lagu ini menjadi "tempat perlindungan" bagi orang-orang yang kehilangan segalanya; saat dunia luar hancur, mereka berlindung dalam seruan belas kasihan kepada Tuhan.
### 5. Pengaruh dalam Musik Dunia
Variasi dari *Kyrie, Eleison* tradisi Kiev ini telah memengaruhi banyak komposer musik klasik (seperti Rachmaninoff dalam *All-Night Vigil* karyanya). Namun, versi yang dianggap "tradisional gerejawi" adalah versi yang tidak memiliki nama komposer tunggal karena ia dianggap sebagai **milik bersama umat (tradisi lisan)** yang diwariskan dari satu generasi ke generasi melalui para biarawan di biara-biara kuno seperti *Kyiv Pechersk Lavra* (Biara Gua Kiev).
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini bukanlah kisah tentang seorang musisi yang menciptakan mahakarya di kamarnya, melainkan kisah tentang **kolektivitas penderitaan dan doa selama lebih dari seribu tahun**.
Ketika Anda mendengarkan *Kyrie, Eleison* gaya Kiev, Anda sedang mendengarkan doa yang sama yang didengarkan oleh para biarawan di hutan-hutan Kiev abad ke-11, yang dipanjatkan di tengah ancaman peperangan, dan yang tetap bertahan sebagai pengingat akan satu hal: **di tengah dunia yang keras, satu-satunya tempat untuk bersandar adalah belas kasihan Tuhan.**
Berikut adalah detail kisah di balik lagu dan seruan liturgis ini:
### 1. Akar Kata: Bukan Bahasa Yunani Biasa
*Kyrie, Eleison* berasal dari bahasa Yunani: *Kyrie* (Tuhan/Tuan) dan *Eleison* (kasihanilah/berbelaskasihlah).
Dalam sejarah Romawi kuno, seruan *"Kyrie, eleison"* bukanlah istilah religius pada awalnya, melainkan **seruan rakyat kepada kaisar** saat ia memasuki kota. Rakyat akan berteriak memohon belas kasihan atau keadilan. Gereja perdana mengadopsi frasa ini sebagai bentuk pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah "Kaisar di atas segala kaisar" yang sejati, yang kepada-Nya umat manusia memohon belas kasihan.
### 2. Tradisi Liturgi Kiev (Slavia)
Ketika Kekristenan masuk ke wilayah Rus Kiev (cikal bakal Ukraina, Rusia, dan Belarusia) pada tahun 988 M melalui pembaptisan Pangeran Vladimir, mereka tidak hanya membawa iman, tetapi juga tradisi liturgi Bizantium (Konstantinopel).
Namun, tradisi Kiev mengembangkan **khasanah musiknya sendiri**. Berbeda dengan nyanyian Bizantium yang monofonik (satu suara) dan bernada tinggi, tradisi Kiev perlahan-lahan mengadopsi harmoni yang lebih dalam, lambat, dan khusyuk.
"Karya" atau komposisi *Kyrie, Eleison* yang sering kita dengar dalam gaya Kiev ini memiliki karakteristik:
* **Melodi yang "Meditatif":** Dirancang bukan untuk pertunjukan, melainkan untuk membawa jiwa ke dalam keheningan yang mendalam.
* **Pengulangan:** Pengulangan kata *Kyrie, Eleison* yang konstan melambangkan "doa yang tak putus-putusnya" (seperti doa Yesus).
### 3. Mengapa Lagu ini Begitu "Menghantui"?
Karya tradisional Kiev sering menggunakan tangga nada minor yang sangat dalam. Ini mencerminkan **teologi penderitaan dan harapan**. Bagi umat Ortodoks Kiev, lagu ini bukan sekadar permintaan tolong, melainkan sebuah **pengakuan akan ketidaklayakan manusia di hadapan Allah yang kudus**, sekaligus keyakinan akan kasih setia-Nya.
Dalam tradisi ini, lagu tersebut biasanya dinyanyikan dengan tempo yang sangat lambat, seolah-olah setiap nada adalah napas. Ini bukan tentang kemegahan vokal, tetapi tentang *kenosis* (pengosongan diri).
### 4. Makna Spiritual di Balik Melodinya
Dalam Liturgi Ortodoks, *Kyrie, Eleison* adalah inti dari setiap doa. Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang:
* **Kerendahan Hati:** Mengakui bahwa kita tidak memiliki apa-apa tanpa kasih Allah.
* **Universalitas:** Karena menggunakan bahasa Yunani dalam liturgi Slavia, ini menunjukkan bahwa Gereja Ortodoks adalah gereja yang melintasi batas bahasa dan bangsa.
* **Ketabahan:** Tradisi Kiev ditempa oleh sejarah yang penuh dengan invasi, perang, dan penderitaan (seperti invasi Mongol). Lagu ini menjadi "tempat perlindungan" bagi orang-orang yang kehilangan segalanya; saat dunia luar hancur, mereka berlindung dalam seruan belas kasihan kepada Tuhan.
### 5. Pengaruh dalam Musik Dunia
Variasi dari *Kyrie, Eleison* tradisi Kiev ini telah memengaruhi banyak komposer musik klasik (seperti Rachmaninoff dalam *All-Night Vigil* karyanya). Namun, versi yang dianggap "tradisional gerejawi" adalah versi yang tidak memiliki nama komposer tunggal karena ia dianggap sebagai **milik bersama umat (tradisi lisan)** yang diwariskan dari satu generasi ke generasi melalui para biarawan di biara-biara kuno seperti *Kyiv Pechersk Lavra* (Biara Gua Kiev).
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini bukanlah kisah tentang seorang musisi yang menciptakan mahakarya di kamarnya, melainkan kisah tentang **kolektivitas penderitaan dan doa selama lebih dari seribu tahun**.
Ketika Anda mendengarkan *Kyrie, Eleison* gaya Kiev, Anda sedang mendengarkan doa yang sama yang didengarkan oleh para biarawan di hutan-hutan Kiev abad ke-11, yang dipanjatkan di tengah ancaman peperangan, dan yang tetap bertahan sebagai pengingat akan satu hal: **di tengah dunia yang keras, satu-satunya tempat untuk bersandar adalah belas kasihan Tuhan.**
Cross Reference
Sama Tema
Liturgi
Ale Amanami
BE
Ai Ho Do Nampuna Harajaon
BE
Amen (2x
BE
Amen (2x
BE
Amen (3x
BE
Amen (3x
BE
Amen (4x
BE
Debata Amanta
BE
Dison Adong Huboan Tuhan
BE
Endehon Ma Haleluya
BE
Haleluya (3x
BE
Haleluya (3x
BE
Haleluya (12x
BE
Haleluya Puji Tuhan
BE
Huboan Pelean
BE
Hupasahat Husombahon Pelean
BE
Husomba Ho Tuhan
BE
Jesus Kristus
BE
Mauliate, Puji Tuhan
BE
Tuhan Asi Roham
BE
Sangap Di Debata
BE