Informasi Lagu
616
Nomor
Kode
BE 616
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Cross Ref.
BLP 316 , KPPK 112, PPK 52, BN 616,KPJ 217
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Uli na i di borngin na badia Humirdop-hirdop do bintang di si. Di borngin i, do tubu Sipalua Di panggagatan di Betlehem i, Portibi on dangol gok haholomon marnida sondang ni Tuhantai. Uli na i marende do suruan diborngin i do tubu Kristus i Di borngin i do tubu Kristus i.
Sian na dao parroha sian purba, Ro do tinogihon ni bintang i. Marsinggang be nasida lao marsomba, Tu Jesus Kristus Sipalua i. Ibana ro sian banua ginjang, Laho paluahon hita jolma i.
Uli na i sude marlas ni roha, Ala naung songgop harajaonNa i. Huria i ria do ro marsomba, Mamuji Raja na sun sangap i. Ibana do panondang hangoluan, Namangalehon pangkirimon i
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — BE 616 1
Slide 2 — BE 616 2
Slide 3 — BE 616 3
Partitur / Not
Partitur Chord BE 616
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu Natal klasik **"O Holy Night"** (yang dalam bahasa Prancis berjudul *"Cantique de Noël"* dan sering dikenal sebagai "Dalu Santi" dalam beberapa adaptasi lokal) adalah kisah yang sangat kontras. Lagu ini lahir dari kolaborasi dua orang yang tidak memiliki latar belakang religius yang kuat, namun berhasil menciptakan salah satu lagu Natal paling spiritual sepanjang masa.

Berikut adalah detail kisah di baliknya:

### 1. Penulis Lirik: Placide Cappeau (1847)
Pada tahun 1847, Placide Cappeau adalah seorang pedagang anggur dari kota Roquemaure, Prancis. Ia adalah seorang pria yang dikenal tidak terlalu religius. Suatu hari, saat ia sedang dalam perjalanan dengan kereta kuda menuju Paris, ia diminta oleh seorang pendeta setempat untuk menulis sebuah puisi untuk merayakan renovasi gereja di desanya.

Di tengah perjalanan itulah, Cappeau merenungkan kisah kelahiran Yesus dalam Injil Lukas. Ia membayangkan suasana malam kelahiran tersebut dan menulis lirik yang sangat emosional berjudul *"Minuit, chrétiens"* (Tengah Malam, Umat Kristiani). Lirik ini menekankan kerendahan hati kelahiran Yesus dan pesan persaudaraan universal.

### 2. Komposisi Musik: Adolphe Adam
Setelah menulis liriknya, Cappeau menyadari bahwa kata-kata tersebut membutuhkan musik yang megah. Ia kemudian meminta bantuan temannya, **Adolphe Adam**, seorang komposer musik klasik ternama di Paris yang juga merupakan seorang Yahudi (yang membuatnya tidak memiliki ikatan doktrin dengan perayaan Natal Kristen).

Meskipun berbeda latar belakang keyakinan, Adam terpesona dengan lirik Cappeau. Ia menulis musiknya dengan gaya opera yang dramatis dan megah, sesuai dengan permintaan Cappeau untuk menciptakan lagu yang bisa membangkitkan kekaguman pendengar. Lagu ini pun selesai pada tahun 1847.

### 3. Kontroversi dan Larangan
Lagu ini pertama kali dinyanyikan di Roquemaure pada Natal tahun 1847 oleh seorang penyanyi opera wanita. Namun, perjalanan lagu ini tidak mulus:

* **Penolakan Gereja:** Tak lama setelah lagu ini populer di Prancis, para pemimpin Gereja Katolik di Prancis memutuskan untuk melarang lagu ini. Alasannya bukan karena melodi atau liriknya, melainkan karena dua faktor:
1. **Latar belakang Cappeau:** Cappeau dikenal sebagai seseorang yang anti-klerikal (menentang kekuasaan gereja) dan memiliki pandangan politik kiri.
2. **Latar belakang Adolphe Adam:** Fakta bahwa lagu ini digubah oleh seorang Yahudi dianggap tidak pantas oleh otoritas gereja saat itu.
* Gereja menyatakan lagu ini "kurang memiliki rasa religius" dan dianggap tidak pantas untuk dinyanyikan di gereja.

### 4. Kebangkitan Lagu (John Sullivan Dwight)
Meskipun dilarang oleh gereja, rakyat Prancis tetap menyanyikan lagu ini di rumah dan di perayaan komunitas karena keindahannya yang luar biasa.

Lagu ini kemudian menyeberang ke Amerika Serikat melalui **John Sullivan Dwight**, seorang kritikus musik dan abolisionis (pendukung penghapusan perbudakan). Pada tahun 1855, Dwight menerjemahkan liriknya ke dalam bahasa Inggris.

Ada satu bagian lirik yang paling ikonik: *"Truly He taught us to love one another; His law is love and His gospel is peace."* (Sungguh Dia mengajar kita untuk saling mengasihi; hukum-Nya adalah kasih dan Injil-Nya adalah damai).

Dwight, yang merupakan pendukung kuat penghapusan perbudakan, sangat menyukai bagian ini karena pesan persaudaraan dan kebebasannya sangat relevan dengan ketegangan Perang Saudara Amerika yang akan segera terjadi. Versi Dwight inilah yang membuat lagu ini menjadi lagu Natal yang dicintai di dunia berbahasa Inggris.

### 5. Momen Bersejarah: "O Holy Night" di Radio
Lagu ini mencatat sejarah sebagai **salah satu lagu pertama yang disiarkan melalui radio**. Pada Malam Natal tahun 1906, Reginald Fessenden, seorang penemu asal Kanada, menyiarkan suara biolanya memainkan lagu "O Holy Night" di radio. Ini adalah siaran musik pertama di dunia yang dikirimkan melalui gelombang radio, menggantikan komunikasi kode Morse yang biasa digunakan saat itu.

### Mengapa lagu ini begitu abadi?
"O Holy Night" bertahan hingga sekarang bukan hanya karena melodi operanya yang megah, tetapi karena **pesan kemanusiaannya**. Terlepas dari kontroversi masa lalunya, lagu ini berhasil menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam—tentang harapan, kasih, dan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan, yang digubah oleh seorang penyair sekuler dan seorang komposer Yahudi.