BE
Di Betlehem Do Tubu
Informasi Lagu
53
Nomor
Kode
BE 53
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 110, KK 167, NR 36 , MK 65 ,BN 53
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
6 bait
Di Betlehem do tubu di hita Anak i I do sian na burju
hupillit Rajangki, i do, i do, hupillit Rajangki
Tu holong ni rohaNa hubonom rohangkon
Hulehon di Ibana Sude na di au on Olo, olo, sude na di au on
Sai naeng haholonganku Ho, ale Tuhanki nang marsak, las rohangku
Ingkon lam ganda i. Olo, olo, ingkon lam ganda i
Burju naeng lehononku di Ho rohangkinon Asi rohaM Tuhanku
Urupi au tongtong. Olo, olo, urupi au tongtong
Partohap di dagingku Ho, Debata hian Tu Ho naeng au mardomu
Ho, artangki hian. Olo, olo, ho artangki hian
Sai unang sirang hita momosi ihot i, di holong ni rohanta o Jesus Tuhanki. Sai tong, sai tong di Ho ma rohangki.
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Zu Bethlehem geboren"** (Di Betlehem T’lah Lahir) adalah salah satu lagu Natal paling klasik dan mendalam dari tradisi Jerman. Lagu ini bukan sekadar nyanyian gembira, melainkan sebuah refleksi teologis yang ditulis oleh seorang tokoh yang hidup di masa yang sangat kelam.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Sang Penulis: Friedrich von Spee (1591–1635)
Penulis liriknya adalah **Friedrich von Spee**, seorang imam Yesuit, penyair, dan akademisi Jerman. Ia hidup di tengah periode **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618–1648), salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah Eropa.
Kisah hidup Spee sangat tragis namun heroik:
* **Melawan Perburuan Penyihir:** Di masa itu, banyak orang tak berdosa dieksekusi karena tuduhan sihir. Spee secara berani menentang praktik ini melalui bukunya, *Cautio Criminalis*, yang ia tulis secara anonim. Ia mendampingi banyak korban menuju tiang eksekusi, yang membuatnya sangat sedih dan trauma.
* **Kematian:** Ia akhirnya meninggal dunia pada usia 44 tahun akibat tertular penyakit (kemungkinan wabah) saat merawat para tentara yang terluka dalam perang.
### 2. Latar Belakang Penciptaan: Mencari Kedamaian di Tengah Perang
Dunia Friedrich von Spee adalah dunia yang penuh dengan kelaparan, wabah penyakit, dan pembantaian. Di tengah kekacauan dan penderitaan perang yang melanda Jerman, ia menulis lagu ini sebagai upaya untuk mengalihkan pandangan orang dari penderitaan dunia menuju **inkarnasi Allah**.
Ia memasukkan lagu ini dalam koleksi puisi religiusnya yang terkenal berjudul ***Trutznachtigall*** (Burung Bulbul yang Melawan/Menantang), yang diterbitkan secara anumerta pada tahun 1649. Judul tersebut bermakna bahwa lagu-lagunya adalah "balasan" bagi suara dunia yang penuh duka, sebuah nyanyian yang lebih indah dan kudus untuk menandingi "nyanyian" perang dan kehancuran.
### 3. Makna Lirik: Teologi Inkarnasi
Lagu ini tidak hanya menceritakan kisah lahirnya bayi Yesus, tetapi merangkum seluruh teologi keselamatan Kristen. Dalam bahasa Jerman aslinya, lagu ini memiliki struktur yang sangat kuat:
* **Pernyataan:** Lagu dibuka dengan fakta sejarah tentang kelahiran Kristus di Betlehem.
* **Penyatuan Ilahi dan Manusia:** Spee menekankan bahwa Sang Pencipta alam semesta menjadi seorang bayi kecil yang lemah. Ini adalah bentuk kerendahan hati Allah yang luar biasa.
* **Tujuan Penyelamatan:** Lagu ini menghubungkan palungan (tempat bayi Yesus) dengan takdir-Nya di kayu salib. Bagi Spee, Natal tidak bisa dipisahkan dari misi penebusan.
### 4. Melodi dan Warisan
Melodi yang kita kenal sekarang pertama kali muncul dalam buku nyanyian *Geistliche Psalter* (1637). Melodinya memiliki karakter yang tenang, reflektif, dan bersifat meditasi, sangat cocok dengan suasana spiritualitas Yesuit pada masa itu.
**Mengapa lagu ini bertahan ratusan tahun?**
* **Ketulusan:** Lagu ini ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengalami penderitaan dunia dan menemukan penghiburan dalam sosok bayi Yesus.
* **Kedalaman Teologis:** Dibandingkan dengan lagu-lagu Natal yang hanya fokus pada "keceriaan", lagu ini membawa pendengar untuk merenungkan makna mendalam dari Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa.
### Kesimpulan
Saat Anda menyanyikan *Di Betlehem T’lah Lahir*, ingatlah bahwa lirik ini lahir dari pena seorang pria yang menghabiskan hari-harinya di antara korban perang dan ketidakadilan. Friedrich von Spee ingin menyampaikan bahwa di tengah dunia yang hancur, **"Terang yang sesungguhnya telah lahir"**. Lagu ini adalah sebuah "protes" damai terhadap kegelapan dunia dengan membawa harapan surgawi ke dalam palungan yang sederhana.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Sang Penulis: Friedrich von Spee (1591–1635)
Penulis liriknya adalah **Friedrich von Spee**, seorang imam Yesuit, penyair, dan akademisi Jerman. Ia hidup di tengah periode **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618–1648), salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah Eropa.
Kisah hidup Spee sangat tragis namun heroik:
* **Melawan Perburuan Penyihir:** Di masa itu, banyak orang tak berdosa dieksekusi karena tuduhan sihir. Spee secara berani menentang praktik ini melalui bukunya, *Cautio Criminalis*, yang ia tulis secara anonim. Ia mendampingi banyak korban menuju tiang eksekusi, yang membuatnya sangat sedih dan trauma.
* **Kematian:** Ia akhirnya meninggal dunia pada usia 44 tahun akibat tertular penyakit (kemungkinan wabah) saat merawat para tentara yang terluka dalam perang.
### 2. Latar Belakang Penciptaan: Mencari Kedamaian di Tengah Perang
Dunia Friedrich von Spee adalah dunia yang penuh dengan kelaparan, wabah penyakit, dan pembantaian. Di tengah kekacauan dan penderitaan perang yang melanda Jerman, ia menulis lagu ini sebagai upaya untuk mengalihkan pandangan orang dari penderitaan dunia menuju **inkarnasi Allah**.
Ia memasukkan lagu ini dalam koleksi puisi religiusnya yang terkenal berjudul ***Trutznachtigall*** (Burung Bulbul yang Melawan/Menantang), yang diterbitkan secara anumerta pada tahun 1649. Judul tersebut bermakna bahwa lagu-lagunya adalah "balasan" bagi suara dunia yang penuh duka, sebuah nyanyian yang lebih indah dan kudus untuk menandingi "nyanyian" perang dan kehancuran.
### 3. Makna Lirik: Teologi Inkarnasi
Lagu ini tidak hanya menceritakan kisah lahirnya bayi Yesus, tetapi merangkum seluruh teologi keselamatan Kristen. Dalam bahasa Jerman aslinya, lagu ini memiliki struktur yang sangat kuat:
* **Pernyataan:** Lagu dibuka dengan fakta sejarah tentang kelahiran Kristus di Betlehem.
* **Penyatuan Ilahi dan Manusia:** Spee menekankan bahwa Sang Pencipta alam semesta menjadi seorang bayi kecil yang lemah. Ini adalah bentuk kerendahan hati Allah yang luar biasa.
* **Tujuan Penyelamatan:** Lagu ini menghubungkan palungan (tempat bayi Yesus) dengan takdir-Nya di kayu salib. Bagi Spee, Natal tidak bisa dipisahkan dari misi penebusan.
### 4. Melodi dan Warisan
Melodi yang kita kenal sekarang pertama kali muncul dalam buku nyanyian *Geistliche Psalter* (1637). Melodinya memiliki karakter yang tenang, reflektif, dan bersifat meditasi, sangat cocok dengan suasana spiritualitas Yesuit pada masa itu.
**Mengapa lagu ini bertahan ratusan tahun?**
* **Ketulusan:** Lagu ini ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengalami penderitaan dunia dan menemukan penghiburan dalam sosok bayi Yesus.
* **Kedalaman Teologis:** Dibandingkan dengan lagu-lagu Natal yang hanya fokus pada "keceriaan", lagu ini membawa pendengar untuk merenungkan makna mendalam dari Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa.
### Kesimpulan
Saat Anda menyanyikan *Di Betlehem T’lah Lahir*, ingatlah bahwa lirik ini lahir dari pena seorang pria yang menghabiskan hari-harinya di antara korban perang dan ketidakadilan. Friedrich von Spee ingin menyampaikan bahwa di tengah dunia yang hancur, **"Terang yang sesungguhnya telah lahir"**. Lagu ini adalah sebuah "protes" damai terhadap kegelapan dunia dengan membawa harapan surgawi ke dalam palungan yang sederhana.
Cross Reference
KJ 110, KK 167, NR 36 , MK 65 ,BN 53
Di Betlehem T'lah Lahir
BN
Di Betlehem T'lah Lahir Seorang Putera
KJ
Di Betlehem T'lah Lahir
KK
Di Betlehem _lah Iahir seorang Putera
MK
Di Betlehem T'lah Jadi
NR
Sama Tema
Hatutubu ni Tuhan Jesus
Na Sian Ginjang Do Au Ro
BE
Di Na Saborngin I Do Binsar
BE
Ria Ma Hita Sasude
BE
Sai Ro Ma Tu Bara
BE
Marende Ma Hamu
BE
Tole Puji Ma Tuhanta
BE
Hatuaon Do
BE
Sonang Ni Bornginna I
BE
Borngin Na Badia
BE
Sai Ro Ma Hamuna
BE
Nunga Jumpang Muse Ari Pesta
BE
Martumbur Tungkotungko
BE
O Jesuski Hupuji Ho
BE
Marolopolop Hamu
BE
Na Tau Las Ni Roha
BE
Halalas Ni Roha Godang
BE