BE
Ngot Ma Ho Dijou Soara
Informasi Lagu
342
Nomor
Kode
BE 342
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KK 307 , KJ 276 , NR 198 , BN 342 , PS 718, MK 17
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Ngot ma ho dijou soara ni angka sipaboa mara,
sai ngot ma ho Jerusalem, tonga borngin do ombasna,
Hamu parbaju na marroha, sai unang ma hamu pedem.
Naeng ro pangoli i, Pagalak lampu i
Haleluya, marhobas be hamu sude tu hasampuran rea i.
Dung dibege Sion hata ni angka na marhal hutana
Mamintor las rohana i, ai jonok alealena
Pargogo di hasintonganna, na binsar do bintangna i.
O Jesus na burju, sai ro ma Ho tibu, Hosianna
Mangihut be do on sude, tu halalas ni rohaMi.
Sangap huendehon hami di Ho, O Jesus Tuhannami
Mardongan sipaluon i, ai mutiha na ummuli
Do bahal ni hutaM na uli, marende sasude disi
Ndang dung binege ni na sian tano i
Las ni roha sisongon i, na masa i di surgo salelengna i.
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik salah satu himne Lutheran paling berkuasa dan abadi, "Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme" (Bangunlah! Dengar Suara) karya Philipp Nicolai. Kisah ini adalah perpaduan antara tragedi pribadi, ketahanan iman, dan harapan yang tak tergoyahkan di tengah kegelapan yang pekat.
---
**Latar Belakang: Philipp Nicolai dan Kegelapan Wabah Besar**
Philipp Nicolai (1550-1608) adalah seorang pendeta Lutheran dari Jerman yang hidup di masa yang penuh gejolak. Ia dikenal sebagai seorang teolog yang saleh dan seorang pembela teguh ajaran Lutheran. Namun, kisah "Wachet Auf" tidak hanya berasal dari kecemerlangan teologisnya, melainkan dari pengalaman pahit yang ia saksikan dan alami sendiri.
Pada tahun 1597, Nicolai menjabat sebagai pendeta di kota Unna, Westphalia (Jerman modern). Tahun itu, wabah Maut Hitam (Black Death) melanda Eropa dengan keganasan yang luar biasa, dan Unna tidak luput dari cengkeramannya. Kota itu menjadi medan perang antara kehidupan dan kematian. Setiap hari, puluhan, bahkan ratusan orang meninggal dunia. Jalanan sepi, kecuali bagi mereka yang mengangkut mayat, para pendeta yang mendampingi orang sekarat, dan sedikit orang yang mencoba bertahan hidup.
Nicolai sendiri menyaksikan kengerian itu secara langsung. Dari jendela pastorinya, ia melihat iring-iringan pemakaman yang tak henti-hentinya. Ia harus menguburkan 30 hingga 50 orang setiap hari, kadang-kadang mencapai 150 orang dalam seminggu. Anak-anaknya, tetangganya, dan jemaatnya berguguran di hadapannya. Ia sendirilah yang harus memberikan penghiburan kepada mereka yang sekarat, menguatkan yang hidup, dan menguburkan yang meninggal. Risiko terinfeksi sangat tinggi, dan setiap hari adalah perjuangan melawan keputusasaan.
**Pencarian Harapan di Tengah Jurang Kematian**
Di tengah situasi yang mencekam itu, banyak orang menyerah pada ketakutan dan keputusasaan. Namun, Nicolai, sebagai seorang pendeta, merasa terpanggil untuk memberikan lebih dari sekadar ritual pemakaman. Ia merasa bahwa ia harus memberikan harapan yang nyata, suatu jangkar spiritual bagi jiwa-jiwa yang hancur. Ia tidak ingin jemaatnya tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung atau rasa takut akan akhir zaman yang mereka yakini semakin dekat.
Ia mengasingkan diri di studinya, membenamkan diri dalam Kitab Suci, khususnya dalam Injil Matius 25:1-13 – perumpamaan tentang sepuluh gadis perawan yang menunggu kedatangan mempelai pria. Perumpamaan ini menceritakan tentang lima gadis bijaksana yang menyiapkan pelita mereka dengan minyak cadangan, dan lima gadis bodoh yang tidak. Ketika mempelai pria datang di tengah malam, hanya mereka yang siap yang bisa masuk ke pesta pernikahan.
Bagi Nicolai, perumpamaan ini bukan hanya kisah kuno, melainkan cerminan langsung dari kondisi dunia pada saat itu. Kematian mengintai, seolah-olah mempelai pria, yaitu Kristus, bisa datang kapan saja untuk menjemput jiwa-jiwa. Pertanyaan utamanya adalah: Apakah kita siap?
**Kelahiran Dua Mahakarya: "Wachet Auf" dan "Wie Schön Leuchtet der Morgenstern"**
Dari refleksi mendalam di tengah wabah itulah, Nicolai menulis dua himne agung yang kelak akan menjadi permata dalam khazanah himne Kristen:
1. **"Wie Schön Leuchtet der Morgenstern" (Betapa Indah Bintang Kejora Bersinar)**
2. **"Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme" (Bangunlah! Dengar Suara)**
Kedua himne ini diterbitkan dalam bukunya pada tahun 1599, *Freuden Spiegel des ewigen Lebens* (Cermin Sukacita Hidup Kekal). Buku ini, termasuk himne-himne di dalamnya, ia persembahkan sebagai "penghiburan surgawi bagi jiwa-jiwa yang menderita" di tengah ancaman wabah dan penderitaan hidup.
**Anatomi "Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme"**
"Wachet Auf" adalah respons Nicolai terhadap keputusasaan. Itu adalah seruan untuk bangun, tidak dalam ketakutan, tetapi dalam antisipasi yang penuh sukacita akan kedatangan Kristus.
* **Ayat Pertama: Panggilan untuk Bangun dan Bersukacita**
* "Wachet auf, ruft uns die Stimme der Wächter sehr hoch auf der Zinne..." (Bangunlah! Suara penjaga memanggil kita dari atas menara...)
* Ayat ini langsung mengacu pada perumpamaan sepuluh gadis perawan. Penjaga di menara adalah simbol para nabi, para pendeta, atau bahkan malaikat yang menyerukan kedatangan Kristus. Panggilan itu terdengar pada "tengah malam," saat yang paling gelap dan paling tidak terduga, melambangkan saat-saat paling sulit dalam hidup, seperti wabah yang sedang berlangsung.
* Meskipun demikian, ada kegembiraan dalam seruan ini: "Auf, auf, ihr weisen Jungfrauen, wohlauf, der Bräutigam kommt!" (Bangun, bangun, hai perawan yang bijaksana, bangkitlah, Sang Mempelai Pria datang!). Ini bukan panggilan ketakutan, tetapi panggilan untuk mempersiapkan pesta.
* **Ayat Kedua: Persiapan dan Kemuliaan Mempelai Pria**
* Ayat ini mengalihkan fokus pada sosok Mempelai Pria, yaitu Yesus Kristus. Ia digambarkan sebagai "Herr Zebaoth," "Gottes Sohn" (Putra Allah), yang datang dengan kemuliaan dan kekuasaan.
* "Er kommt, er kommt, der Bräutigam, er kommt, er ist der A und der O..." (Ia datang, Ia datang, Sang Mempelai Pria, Ia datang, Ia adalah Alfa dan Omega...)
* Gadis-gadis diminta untuk membawa lampu mereka yang menyala, melambangkan iman dan perbuatan baik, dan untuk bergabung dalam prosesi menuju pesta surgawi. Ini adalah gambaran penghiburan dan harapan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan pintu gerbang menuju perayaan kekal bersama Kristus.
* **Ayat Ketiga: Pesta Pernikahan Surgawi**
* Ayat terakhir adalah gambaran yang sangat puitis dan visioner tentang surga dan persekutuan kekal dengan Kristus.
* "Gloria sei dir gesungen mit Menschen- und Engelzungen..." (Kemuliaan bagi-Mu dinyanyikan dengan lidah manusia dan malaikat...)
* Ini adalah puncak dari harapan – bergabung dalam perjamuan surgawi, di mana kesedihan dan penderitaan tidak ada lagi. Ada sukacita tak terbatas, musik, dan kemuliaan di hadapan Allah Tritunggal. Ini adalah visi yang menenangkan, menghilangkan ketakutan akan kematian dan menggantinya dengan kerinduan akan keindahan kekal.
**Warisan dan Pengaruh Abadi**
"Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme" dengan cepat menjadi salah satu himne favorit di gereja-gereja Lutheran. Kekuatan liriknya, yang lahir dari penderitaan tetapi berujung pada harapan yang kokoh, beresonansi dengan banyak orang.
Puncaknya, himne ini diabadikan dalam sejarah musik klasik oleh **Johann Sebastian Bach**. Pada tahun 1731, Bach menggunakan himne ini sebagai dasar untuk salah satu kantata koralnya yang paling terkenal, **Kantata BWV 140, "Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme."** Bach tidak hanya mengambil melodi dan lirik Nicolai, tetapi ia membangun seluruh komposisi yang kompleks dan indah di sekitarnya, dengan aransemen yang memukau untuk paduan suara, orkestra, dan solois. Bagian pembuka kantata ini, dengan melodi koral yang dimainkan oleh oboe dan violin yang bersemangat, adalah salah satu potongan musik paling ikonik dalam sejarah.
Melalui Nicolai, himne ini lahir dari abu wabah. Melalui Bach, ia mencapai keabadian sebagai mahakarya seni yang terus menginspirasi dan menghibur. Kisah di baliknya adalah pengingat yang kuat bahwa di tengah penderitaan terbesar sekalipun, iman dapat merobek selubung keputusasaan dan mengungkapkan janji harapan dan sukacita yang kekal.
---
**Latar Belakang: Philipp Nicolai dan Kegelapan Wabah Besar**
Philipp Nicolai (1550-1608) adalah seorang pendeta Lutheran dari Jerman yang hidup di masa yang penuh gejolak. Ia dikenal sebagai seorang teolog yang saleh dan seorang pembela teguh ajaran Lutheran. Namun, kisah "Wachet Auf" tidak hanya berasal dari kecemerlangan teologisnya, melainkan dari pengalaman pahit yang ia saksikan dan alami sendiri.
Pada tahun 1597, Nicolai menjabat sebagai pendeta di kota Unna, Westphalia (Jerman modern). Tahun itu, wabah Maut Hitam (Black Death) melanda Eropa dengan keganasan yang luar biasa, dan Unna tidak luput dari cengkeramannya. Kota itu menjadi medan perang antara kehidupan dan kematian. Setiap hari, puluhan, bahkan ratusan orang meninggal dunia. Jalanan sepi, kecuali bagi mereka yang mengangkut mayat, para pendeta yang mendampingi orang sekarat, dan sedikit orang yang mencoba bertahan hidup.
Nicolai sendiri menyaksikan kengerian itu secara langsung. Dari jendela pastorinya, ia melihat iring-iringan pemakaman yang tak henti-hentinya. Ia harus menguburkan 30 hingga 50 orang setiap hari, kadang-kadang mencapai 150 orang dalam seminggu. Anak-anaknya, tetangganya, dan jemaatnya berguguran di hadapannya. Ia sendirilah yang harus memberikan penghiburan kepada mereka yang sekarat, menguatkan yang hidup, dan menguburkan yang meninggal. Risiko terinfeksi sangat tinggi, dan setiap hari adalah perjuangan melawan keputusasaan.
**Pencarian Harapan di Tengah Jurang Kematian**
Di tengah situasi yang mencekam itu, banyak orang menyerah pada ketakutan dan keputusasaan. Namun, Nicolai, sebagai seorang pendeta, merasa terpanggil untuk memberikan lebih dari sekadar ritual pemakaman. Ia merasa bahwa ia harus memberikan harapan yang nyata, suatu jangkar spiritual bagi jiwa-jiwa yang hancur. Ia tidak ingin jemaatnya tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung atau rasa takut akan akhir zaman yang mereka yakini semakin dekat.
Ia mengasingkan diri di studinya, membenamkan diri dalam Kitab Suci, khususnya dalam Injil Matius 25:1-13 – perumpamaan tentang sepuluh gadis perawan yang menunggu kedatangan mempelai pria. Perumpamaan ini menceritakan tentang lima gadis bijaksana yang menyiapkan pelita mereka dengan minyak cadangan, dan lima gadis bodoh yang tidak. Ketika mempelai pria datang di tengah malam, hanya mereka yang siap yang bisa masuk ke pesta pernikahan.
Bagi Nicolai, perumpamaan ini bukan hanya kisah kuno, melainkan cerminan langsung dari kondisi dunia pada saat itu. Kematian mengintai, seolah-olah mempelai pria, yaitu Kristus, bisa datang kapan saja untuk menjemput jiwa-jiwa. Pertanyaan utamanya adalah: Apakah kita siap?
**Kelahiran Dua Mahakarya: "Wachet Auf" dan "Wie Schön Leuchtet der Morgenstern"**
Dari refleksi mendalam di tengah wabah itulah, Nicolai menulis dua himne agung yang kelak akan menjadi permata dalam khazanah himne Kristen:
1. **"Wie Schön Leuchtet der Morgenstern" (Betapa Indah Bintang Kejora Bersinar)**
2. **"Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme" (Bangunlah! Dengar Suara)**
Kedua himne ini diterbitkan dalam bukunya pada tahun 1599, *Freuden Spiegel des ewigen Lebens* (Cermin Sukacita Hidup Kekal). Buku ini, termasuk himne-himne di dalamnya, ia persembahkan sebagai "penghiburan surgawi bagi jiwa-jiwa yang menderita" di tengah ancaman wabah dan penderitaan hidup.
**Anatomi "Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme"**
"Wachet Auf" adalah respons Nicolai terhadap keputusasaan. Itu adalah seruan untuk bangun, tidak dalam ketakutan, tetapi dalam antisipasi yang penuh sukacita akan kedatangan Kristus.
* **Ayat Pertama: Panggilan untuk Bangun dan Bersukacita**
* "Wachet auf, ruft uns die Stimme der Wächter sehr hoch auf der Zinne..." (Bangunlah! Suara penjaga memanggil kita dari atas menara...)
* Ayat ini langsung mengacu pada perumpamaan sepuluh gadis perawan. Penjaga di menara adalah simbol para nabi, para pendeta, atau bahkan malaikat yang menyerukan kedatangan Kristus. Panggilan itu terdengar pada "tengah malam," saat yang paling gelap dan paling tidak terduga, melambangkan saat-saat paling sulit dalam hidup, seperti wabah yang sedang berlangsung.
* Meskipun demikian, ada kegembiraan dalam seruan ini: "Auf, auf, ihr weisen Jungfrauen, wohlauf, der Bräutigam kommt!" (Bangun, bangun, hai perawan yang bijaksana, bangkitlah, Sang Mempelai Pria datang!). Ini bukan panggilan ketakutan, tetapi panggilan untuk mempersiapkan pesta.
* **Ayat Kedua: Persiapan dan Kemuliaan Mempelai Pria**
* Ayat ini mengalihkan fokus pada sosok Mempelai Pria, yaitu Yesus Kristus. Ia digambarkan sebagai "Herr Zebaoth," "Gottes Sohn" (Putra Allah), yang datang dengan kemuliaan dan kekuasaan.
* "Er kommt, er kommt, der Bräutigam, er kommt, er ist der A und der O..." (Ia datang, Ia datang, Sang Mempelai Pria, Ia datang, Ia adalah Alfa dan Omega...)
* Gadis-gadis diminta untuk membawa lampu mereka yang menyala, melambangkan iman dan perbuatan baik, dan untuk bergabung dalam prosesi menuju pesta surgawi. Ini adalah gambaran penghiburan dan harapan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan pintu gerbang menuju perayaan kekal bersama Kristus.
* **Ayat Ketiga: Pesta Pernikahan Surgawi**
* Ayat terakhir adalah gambaran yang sangat puitis dan visioner tentang surga dan persekutuan kekal dengan Kristus.
* "Gloria sei dir gesungen mit Menschen- und Engelzungen..." (Kemuliaan bagi-Mu dinyanyikan dengan lidah manusia dan malaikat...)
* Ini adalah puncak dari harapan – bergabung dalam perjamuan surgawi, di mana kesedihan dan penderitaan tidak ada lagi. Ada sukacita tak terbatas, musik, dan kemuliaan di hadapan Allah Tritunggal. Ini adalah visi yang menenangkan, menghilangkan ketakutan akan kematian dan menggantinya dengan kerinduan akan keindahan kekal.
**Warisan dan Pengaruh Abadi**
"Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme" dengan cepat menjadi salah satu himne favorit di gereja-gereja Lutheran. Kekuatan liriknya, yang lahir dari penderitaan tetapi berujung pada harapan yang kokoh, beresonansi dengan banyak orang.
Puncaknya, himne ini diabadikan dalam sejarah musik klasik oleh **Johann Sebastian Bach**. Pada tahun 1731, Bach menggunakan himne ini sebagai dasar untuk salah satu kantata koralnya yang paling terkenal, **Kantata BWV 140, "Wachet Auf, Ruft Uns Die Stimme."** Bach tidak hanya mengambil melodi dan lirik Nicolai, tetapi ia membangun seluruh komposisi yang kompleks dan indah di sekitarnya, dengan aransemen yang memukau untuk paduan suara, orkestra, dan solois. Bagian pembuka kantata ini, dengan melodi koral yang dimainkan oleh oboe dan violin yang bersemangat, adalah salah satu potongan musik paling ikonik dalam sejarah.
Melalui Nicolai, himne ini lahir dari abu wabah. Melalui Bach, ia mencapai keabadian sebagai mahakarya seni yang terus menginspirasi dan menghibur. Kisah di baliknya adalah pengingat yang kuat bahwa di tengah penderitaan terbesar sekalipun, iman dapat merobek selubung keputusasaan dan mengungkapkan janji harapan dan sukacita yang kekal.
Cross Reference
KK 307 , KJ 276 , NR 198 , BN 342 , PS 718, MK 17
Bangkitlah Dengar Suara
BN
Bangunlah! Dengar Suara
KJ
Bangunlah! Dengar Suara
KK
Bangunlah, dengar suara
MK
Bangunlah, Dengar Suara
NR
Bangunlah dengar suara
PS
Sama Tema
Na Masa Sogot
Tibu Ma Jumpang
BE
Jerusalem Ho Huta Na Timbo
BE
Ungkap Bahal Na Ummuli
BE
Di Dia Adian?
BE
Adong Dope Paradianan
BE
Sai Masipaidaan
BE
Lobi Timbona Dope
BE
Hatiha Na So Salpu Be
BE
Hatiha Na So Salpu Be 2
BE
Martua Dongan Angka Na
BE
Beha Ma Panjalongku
BE
Di Surgo Hasonangan I
BE
Sai Tong Maimaima Do
BE
Tongtong Tutu Na Denggan Do
BE