BE
O Jesus Naung Sineat
Informasi Lagu
153
Nomor
Kode
BE 153
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 311
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
O Jesus naung sineat, di hau na pinarsilang.
RohaM tongtong daulat, nang uju Ho tarsilang.
Marutang hosa hami, ditaon Ho dosanami, Asi rohaM o Jesus.
Pelean na badia, na masuk tu Jahowa.
Singkat ni manisia, na so daulat roha.
Di taon Ho dosanami, so i lao mago hami, Asi rohaM o Jesus.
Pelean na badia, jinalo ni Debata
Panaon ni manisia, na pasohothon bada
Sai sesa dosanami, Ho hatigorannami, Asi rohaM o Jesus
Pelean na badia, dagingMu sipanganon
Di angka na porsea, mudarMu siinumon
Sai ro ma maringanan, marhite parpadanan. Di hami on, o Jesus.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"O Lamm Gottes, Unschuldig"** (O Anak Domba Allah, yang Tidak Berdosa) adalah sebuah perjalanan sejarah yang menghubungkan tradisi liturgi kuno gereja dengan semangat Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik karya klasik ini:
### 1. Sosok Nicolaus Decius (Sang Penulis)
Nicolaus Decius (sekitar 1485–1541) adalah seorang mantan biarawan dari ordo Benediktin di Stettin (sekarang Szczecin, Polandia). Ia kemudian beralih menjadi pendukung gerakan Reformasi Protestan. Decius dikenal sebagai salah satu penulis himne (nyanyian gereja) pertama dalam tradisi Lutheran.
Selain dikenal sebagai penulis lagu, ia juga seorang organis dan guru sekolah. Kemampuannya menggabungkan teologi yang dalam dengan melodi yang mudah diingat menjadikannya tokoh penting dalam sejarah musik gereja.
### 2. Inspirasi Liturgis: *Agnus Dei*
Lagu ini bukan ciptaan yang benar-benar baru dari nol dalam hal teks, melainkan sebuah **parafrase atau adaptasi Jerman** dari doa liturgi Latin kuno yang disebut ***Agnus Dei***.
* **Agnus Dei** adalah bagian dari misa Katolik (Ordinarium Missae) yang sudah digunakan sejak abad ke-7.
* Decius mengambil esensi dari doa tersebut: *"Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, miserere nobis"* (Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami).
* Ia menerjemahkan dan mengembangkannya ke dalam bahasa Jerman agar jemaat awam dapat memahami dan menyanyikan doktrin tentang kurban Kristus dengan lebih personal.
### 3. Struktur Lagu dan Teologi
Lagu ini ditulis sekitar tahun **1522**. Kekuatan utama lagu ini terletak pada strukturnya yang mencerminkan iman Kristen tentang pengorbanan Yesus:
* **Strofa 1 & 2:** Menggambarkan penderitaan, penghinaan, dan kematian Yesus di kayu salib. Decius menekankan bahwa Yesus "tidak berdosa" (*unschuldig*), namun Ia rela mati untuk menanggung dosa manusia.
* **Strofa 3:** Diakhiri dengan permohonan, *"Berilah kami damai-Mu"* (Gib uns deinen Frieden).
Secara teologis, lagu ini membawa jemaat untuk merenungkan keadilan Allah (hukuman atas dosa) dan kasih karunia (Yesus sebagai pengganti manusia). Ini sangat sejalan dengan ajaran Martin Luther mengenai *Sola Gratia* (hanya oleh kasih karunia).
### 4. Musik dan Melodi
Melodi yang digunakan untuk lagu ini (yang dikenal sebagai *O Lamm Gottes, unschuldig*) kemungkinan besar juga disusun oleh Decius sendiri. Melodi ini memiliki karakteristik:
* **Kekhidmatan:** Temponya lambat dan meditatif, sangat cocok untuk masa Pra-Paskah atau ibadah Jumat Agung.
* **Pengaruh Musik Organ:** Karena latar belakang Decius sebagai organis, melodi ini dirancang dengan harmoni yang kuat.
### 5. Pengaruh dalam Sejarah Musik (Johann Sebastian Bach)
Kisah lagu ini tidak berhenti di abad ke-16. Karya ini menjadi sangat abadi karena digunakan oleh **Johann Sebastian Bach**.
Bach menggunakan melodi dan tema lagu ini sebagai fondasi untuk pembuka karya monumentalnya, ***St. Matthew Passion*** (BWV 244). Dalam karya tersebut, Bach menganyam melodi "O Lamm Gottes, unschuldig" ke dalam paduan suara yang megah dan emosional, menjadikannya salah satu momen paling dramatis dan sakral dalam sejarah musik dunia.
### Kesimpulan
Lagu "O Lamm Gottes, Unschuldig" adalah jembatan antara masa lalu Gereja yang bersifat formal (liturgi Latin) dengan masa depan Reformasi yang menekankan partisipasi jemaat. Nicolaus Decius berhasil mengubah sebuah doa kuno menjadi lagu pujian yang tidak hanya indah secara melodi, tetapi juga mampu membawa pendengarnya ke dalam perenungan mendalam akan makna pengorbanan Kristus di kayu salib.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne Paskah yang paling dihormati dalam tradisi gereja di seluruh dunia.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik karya klasik ini:
### 1. Sosok Nicolaus Decius (Sang Penulis)
Nicolaus Decius (sekitar 1485–1541) adalah seorang mantan biarawan dari ordo Benediktin di Stettin (sekarang Szczecin, Polandia). Ia kemudian beralih menjadi pendukung gerakan Reformasi Protestan. Decius dikenal sebagai salah satu penulis himne (nyanyian gereja) pertama dalam tradisi Lutheran.
Selain dikenal sebagai penulis lagu, ia juga seorang organis dan guru sekolah. Kemampuannya menggabungkan teologi yang dalam dengan melodi yang mudah diingat menjadikannya tokoh penting dalam sejarah musik gereja.
### 2. Inspirasi Liturgis: *Agnus Dei*
Lagu ini bukan ciptaan yang benar-benar baru dari nol dalam hal teks, melainkan sebuah **parafrase atau adaptasi Jerman** dari doa liturgi Latin kuno yang disebut ***Agnus Dei***.
* **Agnus Dei** adalah bagian dari misa Katolik (Ordinarium Missae) yang sudah digunakan sejak abad ke-7.
* Decius mengambil esensi dari doa tersebut: *"Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, miserere nobis"* (Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami).
* Ia menerjemahkan dan mengembangkannya ke dalam bahasa Jerman agar jemaat awam dapat memahami dan menyanyikan doktrin tentang kurban Kristus dengan lebih personal.
### 3. Struktur Lagu dan Teologi
Lagu ini ditulis sekitar tahun **1522**. Kekuatan utama lagu ini terletak pada strukturnya yang mencerminkan iman Kristen tentang pengorbanan Yesus:
* **Strofa 1 & 2:** Menggambarkan penderitaan, penghinaan, dan kematian Yesus di kayu salib. Decius menekankan bahwa Yesus "tidak berdosa" (*unschuldig*), namun Ia rela mati untuk menanggung dosa manusia.
* **Strofa 3:** Diakhiri dengan permohonan, *"Berilah kami damai-Mu"* (Gib uns deinen Frieden).
Secara teologis, lagu ini membawa jemaat untuk merenungkan keadilan Allah (hukuman atas dosa) dan kasih karunia (Yesus sebagai pengganti manusia). Ini sangat sejalan dengan ajaran Martin Luther mengenai *Sola Gratia* (hanya oleh kasih karunia).
### 4. Musik dan Melodi
Melodi yang digunakan untuk lagu ini (yang dikenal sebagai *O Lamm Gottes, unschuldig*) kemungkinan besar juga disusun oleh Decius sendiri. Melodi ini memiliki karakteristik:
* **Kekhidmatan:** Temponya lambat dan meditatif, sangat cocok untuk masa Pra-Paskah atau ibadah Jumat Agung.
* **Pengaruh Musik Organ:** Karena latar belakang Decius sebagai organis, melodi ini dirancang dengan harmoni yang kuat.
### 5. Pengaruh dalam Sejarah Musik (Johann Sebastian Bach)
Kisah lagu ini tidak berhenti di abad ke-16. Karya ini menjadi sangat abadi karena digunakan oleh **Johann Sebastian Bach**.
Bach menggunakan melodi dan tema lagu ini sebagai fondasi untuk pembuka karya monumentalnya, ***St. Matthew Passion*** (BWV 244). Dalam karya tersebut, Bach menganyam melodi "O Lamm Gottes, unschuldig" ke dalam paduan suara yang megah dan emosional, menjadikannya salah satu momen paling dramatis dan sakral dalam sejarah musik dunia.
### Kesimpulan
Lagu "O Lamm Gottes, Unschuldig" adalah jembatan antara masa lalu Gereja yang bersifat formal (liturgi Latin) dengan masa depan Reformasi yang menekankan partisipasi jemaat. Nicolaus Decius berhasil mengubah sebuah doa kuno menjadi lagu pujian yang tidak hanya indah secara melodi, tetapi juga mampu membawa pendengarnya ke dalam perenungan mendalam akan makna pengorbanan Kristus di kayu salib.
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne Paskah yang paling dihormati dalam tradisi gereja di seluruh dunia.